Jum'at, 19 Oktober 2018

<img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://sultra.kemenag.go.id/files/sultra/file/file/BANNER/Logo_Warna.png" alt="" width="303" height="286" />

GEOGRAFIS SULAWESI TENGGARA

Sulawesi Tenggara adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribukotakan Kendari. Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa di antara 0245 0615 Lintang Selatan dan 12045 12430 Bujur Timur serta mempunyai wilayah daratan seluas 38.140 km (3.814.000 ha) dan perairan (laut) seluas 110.000 km (11.000.000 ha).

 

SEJARAH DAERAH

Sulawesi Tenggara awalnya merupakan nama salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara Sulselra dengan Bau-bau sebagai ibukota kabupaten. Sulawesi Tenggara ditetapkan sebagai Daerah Otonom berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No.13 Tahun 1964. (SELENGKAPNYA KLIK DISINI) dan (DISINI)

 

SEJARAH KANWIL KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Pendidikan Islam sebagai sebuah upaya aktualisasi nilai nilai ideal ajaran Islam berdasarkan Alquran dan Hadis dalam praktek kehidupan konkrit umat Islam sesuai dengan semangat kemajuan zaman dan juga sesuai dengan kondisi budaya lokal, maka kajian atas sejarah pendidikan Islam lokal, khususnya untuk wilayah Sulawesi Tenggara adalah sangat penting. Apalagi sebagian pakar berpendapat bahwa pendidikan Islam di tanah air hingga dewasa ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena faktor tantangan modernisasi dan globalisasi di satu sisi, dan di sisi lain mungkin pula disebabkan antara lain kekurangmampuan menggali khazanah kearifan lokal yang tersimpan dalam khazanah budaya lokal Islam masa lalu untuk diterapkan dalam mengimplementasikan pendidikan Islam yang kontekstual di masa kini. Di sinilah letak pentingnya kajian atas sejarah perkembangan pendidikan Islam lokal, khususnya di wilayah Sulawesi Tenggara.

Sebelum memasuki pembahasan tentang sejarah perkembangan pendidikan Islam Sulawesi Tenggara, di sini perlu dikemukakan secara kronologis para pejabat pemerintah di Sulawesi Tenggara yang bertanggung jawab terhadap proses perkembangan pendidikan Islam sejak terbentuknya propinsi Sulawesi Tenggara sampai dengan sekarang, yaitu sebagai berikut :

Sebelum terbentuknya Kanwil Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tenggara, maka instansi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan agama adalah Inspeksi Pendidikan Agama Propinsi Sulawesi Tenggara yang pimpinannya dijabat oleh SAID DAENG MANESSA. Jabatan ini setara dengan Inspeksi Urusan Agama Islam yang pimpinannya dijabat oleh KH. BAEDHAWIE. SAID DAENG MANESSA menjabat sebagai Kepala Inspeksi Pendidikan Agama Propinsi Sulawesi Tenggara dan tahun 1967 sampai dengan tahun 1972. Tahun 1973 Inspeksi Pendidikan Agama dengan Inspeksi Urusan Agama diintegrasikan menjadi Perwakilan Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tenggara yang pimpinannya adalah KH. Baedhawie. Dan Perwakilan Agama kemudian berubah menjadi Kanwil Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tenggara, juga dipimpin KH. BAEDHAWIE. Mulai terbentuknya Inspeksi Pendidikan Agarna Propinsi Sulawesi Tenggara hingga Kanwil Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tenggara sudah berada pada masa Orde Baru. Kemudian pada tahun 2010 Departemen Agama berubah nama menjadi Kementerian Agama melalui Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 tentang Perubahan Penyebutan Departemen Agama Menjadi Kementerian Agama, saat itu Kepala Kanwil Kementerian Agama di Pimpin oleh Drs. H. Abdul Muis D., M.Pd.

Para Kepala Kanwil Kementerian Agama Propinsi Sulawesi Tenggara pada masa Orde Baru hingga sekarang secara berturut-turut adalah :

  1. KH. BAEDHAWIE ( 1973 1985 )
  2. DRS. H. A. JABAR ABU ( 1985 1992 )
  3. LETKOL. POL. DRS. H. MUHAMMAD NAIM ( 1992 1997 )
  4. DRS. H. THAHIR SYARKAWI ( 1997 1999 )
  5. DRS. H. MUSTAFA HUSBA, S.IP. ( 1999 2001 )
  6. DRS. H. LA ZAHI JAYA ( 2001 2005 )
  7. DRS. H. ABDUL MUIS, M.PD. ( 2005 2011 )
  8. DRS. KH. MUDHAR BINTANG ( 2011 2012 )
  9. DRS. H. MUCHLIS A. MAHMUD. MM ( 2012 2013 )
  10. DRS. RAKMAN. M.SI ( DESEMBER 2013 JUNI 2014 )
  11. H. MOHAMAD ALI IRFAN, SE., MM., M.AK ( 2014 Sementara Menjabat )

Pejabat yang bertanggung jawab secara operasional di bidang pendidikan Agama sejak Orde Baru sampai dengan sekarang secara berturut turut adalah :

  1. SAID DG. MANESSA, dengan jabatan pertama sebagai Kepala Inspeksi Pendidikan Agama Propinsi Sulawesi Tenggara
  2. DRS. MARWAN AIDID, dengan jabatan sebagai Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam
  3. DRS. H. TANITTING SYAMSUDDIN, dengan jabatan yang sama
  4. DRS. H. MUSTAFA HUSBA, dengan jabatan sebagai Kepala Bidang Perguruan Agama Islam (sebelum menjadi Kepala Kanwil)
  5. DRS. H. LA ZAHI JAYA, dengan jabatan Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam (kemudian menjadi Kepala Kanwil)
  6. DRS. H. ABDULLAH UBAID, sebagai Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam
  7. H. RAFI RAHMAN, BA., sebagai Kepala Bidang Perguruan Agama Islam.

Kemudian Abdullah Ubaid digantikan oleh Drs. H. Abdul Hamid, dan H. Rafi Rahman, BA. digantikan oleh Drs. H. La Zahi Jaya (sebelum menjadi Kepala Kanwil). Pada masa ini Perguruan Agama Islam (PERGURAIS) dan Pendidikan Agama Islam (PENDAIS) sudah diintegrasikan menjadi Mapenda dengan Kepala bidang Drs. H. La Zahi Jaya dan lahir Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Drs. H. Subang Fahri. Drs. H. La Zahi Jaya kemudian digantikan oleh Drs. H. Mashuri, M.Pd. Drs. H. Mashuri, M.Pd. digantikan oleh Drs. Rakhman, M.Si. Drs. Rakhman, M.Si digantikan oleh Drs. H. Syaifuddin. MA dan pada tahun 2011, Drs. H. Syaifuddin. MA digantikan oleh Syamsuri. S.Ag., S.Pd., M.Pd sebagai Kabid Mapenda sampai dengan sekarang.

Para pejabat yang paling bertanggung jawab tentang kemajuan pendidikan Islam di Sulawesi Tenggara kini dan ke depan, sengaja disebutkan di sini karena merekalah sebagai pemegang amanah dan negara, guna mewujudkan salah satu tujuan nasional yang tertuang pada alinea ke empat pembukaan undang undang dasar 1945 yang berbunyi antara lain mencerdaskan kehidupan bangsa. Fenomena Madrasah yang kurikulumnya untuk bidang studi umum sudah sama dengan kurikulum pendidikan umum yang sederajat serta fenomena UIN, adalah menunjukkan bahwa dewasa ini tidak ada lagi dikotomi antara lembaga pendidikan yang dikelola oleh Kementerian Agama dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Kedua Kementerian ini sama sama mengemban tugas mencerdaskan kehidupan bangsa, meskipun tugas pokok Kementerian Agama adalah bidang Keagamaan.

Telaah atas perkembangan pendidikan Islam di Sulawesi Tenggara yang dikaji ini akan dapat memberikan kontribusi kepada para pejabat yang bertanggung jawab di bidang pendidikan khususnya pendidikan Islam di Sulawesi Tenggara dalam mengambil kebijakan dalam mempercepat laju perkembangan pendidikan Islam di daerah ini kini dan ke depan, juga dapat menjadi acuan untuk penelitian penelitian selanjutnya bagi para peneliti dan akademisi.