Minggu, 29 November 2020

Kesultanan Buton terletak di Kepulauan Buton (Kepulauan Sulawesi Tenggara) Provinsi Sulawesi tenggara. Pada zaman dahulu memiliki kerajaan sendiri yang bernama kerajaan Buton dan berubah menjadi bentuk kesultanan yang dikenal dengan nama Kesultanan Buton. Nama Pulau Buton dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit, Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa.

Sejarah Masuknya islam di kerajaan Buton masih simpang siur ada yang mengatakan berawal dari datangnya Sayid Jamaluddin al-Kubra di Pulau Buton, yaitu pada tahun 815 H/1412 M. Ulama tersebut diundang oleh Raja Mulae Sangia i-Gola dan bagindapun langsung memeluk agama Islam. Lebih kurang seratus tahun kemudian, dilanjutkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang menurut beberapa sumber berasal dari Johor. Kedatangannya tersebut berhasil mengislamkan Raja Buton yang ke-6 sekitar tahun 948 H/ 1538 M. Namun Riwayat lain mengatakan  itu terjadi pada tahun 1564 M. Sehingga kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton masih belum jelas pada tahun berapa. Oleh itu dalam artikel ini dirasakan perlu dikemukakan beberapa perbandingan. Dalam masa yang sama dengan kedatanganSyeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al- Fathani, diriwayatkan bahwa di Callasusung (Kulisusu), salah sebuah daerah kekuasaan KerajaanButon, didapati semua penduduknya sudah beragama Islam.

 

Dalam riwayat yang lain menyebut bahwa yang melantik Sultan Buton yang pertama memeluk Islam, bukan Syeikh Abdul Wahid tetapi guru beliau yang sengaja didatangkan dari Patani. Raja Halu Oleo setelah ditabalkan sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, dinamakan Sultan Murhum. Selain pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Johor, ada pula pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Ternate. Dipercayai orang-orang Melayu dari berbagai daerah telah lama sampai di Pulau Buton. Mengenainya dapat dibuktikan bahwa walaupun Bahasa yang digunakan dalam Kerajaan Buton ialah bahasa Wolio, namun dalam masa yang sama digunakanBahasa Melayu, terutama bahasa Melayu yang dipakai di Malaka, Johor dan Patani. Orang-orang Melayu tinggal di Pulau Buton, sebaliknya orang-orang Buton pula termasuk kaum yang pandai belayar seperti orang Bugis juga.

Pada masa kesultanan Buton yang bercorak system pemerintahan syariat islam pada masa itu sangat dikenal dan diakui oleh Negara kesultanan yang lain di nusantara bahkan di jaringan kekhalifahan kesultanan yang ada dunia. Sehingga sultan Buton di anugerahi gelar Khalifatul Khamis oleh Khalifa Otsmaniah, sebuah gelar yang umum di gunakan oleh para sultan dalam jaringan kekhalifahan Otsmaniah. Ketika itu Khilafa Islamia di Turki-Istanbul (Kesultanan Otsmaniah) sebagai pusat pemerintaahan islam mengakui kedaulatan Kesultanan Buton yang menjalankan secarah penuh syariat islam dalam system pemerintahannya.

 

Referensi :

-http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Buton

-http://munsirmediagaleri.blogspot.com/2012/12/sejarah-berdiri-runtuh-dan-perkembangan_28.html