Minggu, 29 November 2020

Kakanwil Kemenag Sultra Buka Rapat Koordinasi Ormas Islam

  • Selasa, 27 Oktober 2020 12:14 WIB

Kendari (Humas Sultra)--- Kakanwil Kemenag Sultra, Fesal Musaad membuka Rapat Koordinasi Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam Dalam Rangka Implementasi Moderasi Beragama guna Memperkokoh Kerukunan Intern Umat Beragama Islam yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa (27/10/2020) bertempat di Hotel Zahra Syariah Kendari.

Dalam sambutannya sekaligus narasumber kegiatan, Fesal menjelaskan bahwa MUI merupakan salah satu mitra  Kementerian Agama dalam mendorong pemahaman beragama, serta mendukung moderasi beragama di Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara yang juga sejalan dengan visi Pemerintah Daerah.

Dijelaskan Kakanwil bahwa moderasi beragama merupakan bentuk dari Islam Washatiyah atau kaum pertengahan yang memahami adanya perbedaan, dengan sikap toleransi dan saling menjaga kerukuran diantara keyakinan yang berbeda.

"Sebab Allah menciptakan dengan segala perbedaan yang dimiliki manusia mulai dari suku, bahasa, dan agama," jelasnya.

Kakanwil kembali menekankan bahwa agama dan Negara tidak bisa dipisahkan. Hal ini dilihat dalam konteks NKRI. Sebab menurutnya  Negara dan Agama dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme. Keduanya tidak bisa dipisahkan karena negara membutuhkan agama, begitupun sebaliknya, untuk itu negara dan agama harus saling mengisi dan mengawasi dalam menciptakan perdamaian NKRI dengan sikap Bhineka Tunggal Ika.

"Juga untuk menciptakan moderasi beragama  terus tanamkan dalam diri kita, dan juga masyarakat tentang bagaimana menumbuhkan sikap ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Insaniyah,  dan ukhuwah Wathoniyah, dan Alamiyah," jelasnya.

Sebelumnya, mengawali sambutannya Kakanwil menghimbau bahwa tahun politik yang sebentar lagi akan dilaksanakan di wilayah sultra rentang terjadi perbedaan aspirasi dari sebagian masyarakat juga banyaknya isu-isu hoax dalam bentuk radikalisme terkait ujaran kebencian terhadap simbol-simbol agama tertentu, yang tak jarang dampak dari paham tersebut menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat yang menimbulkan paham kebencian oleh beberapa agama.

"Untuk itu, para tokoh agama harus mampu menjadi duta-duta perdamaian demi menghilangkan perpecahan di masyarakat, karena yang mampu mendorong pemahaman keagamaan serta menjunjung tinggi kemanusiaan sebagian besar dilakukan oleh para tokoh-tokoh agama," Jelasnya.

Disamping itu, Ketua MUI Prov. Sultra, KH. Mursyidin, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkokoh kerukunan intern beragama dalam bingkai NKRI.

" Tiga tugas majelis ulama yang perlu kita pahami bersama, yakni pertama majelis ulama sebagai pelayan umat, pelindung umat, dan ketiga yaitu mitra pemerintah," terangnya.

Dia melanjutkan bahwa dalam moderasi beragama, sebagai tokoh-tokoh agama dan mitra pemerintah, MUI memiliki tugas untuk menjaga agama dan negara.

Dijelaskan menciptakan moderasi beragama  dibutuhkan hati yang berbaik sangka, dengan kata-kata yang lembut, sikap yang jujur, dan bijaksana dalam bersosialiasi kepada masyarakat.

"Islam moderat itu ialah islam washatiyah atau umat pertengahan yaitu umat yang berkeseimbangan, menjungjung tinggi manusia dan kemanusiaan," ungkapnya.

Sebagai mitra pemerintah, MUI mendukung segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi umat dalam bernegara dan beragama selama kegiatan tersebut tidak menimbulkan kemaksiatan.

Sumber : -
Penulis : Nisa Nurhayati. S. IK
Editor : Rio Tufail Ramadhan. SH
Dibaca : 158 kali