Jum'at, 18 September 2020

Memelihara Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid 19

  • Jum'at, 21 Agustus 2020 14:57 WIB

Fesal Musaad S. Pd. M. Pd

Kakanwil Kemenag Prov. Sultra

 

Best wishes for all
I respect
Chairman of the umussabri foundation: Mr. Dr. Supriyanto

Mr. Katsuhiro Yamuchi
Ms. Lea M. Gadingan
Dr.HC. Aslan khan Bin Samahs from malaysia.
Welcome to the club

I am happy to meet the participants of today’s webinar
Nice to need you and well come to join
Sorry I am using Indonesian.

Semoga semuanya sehat selalu ditengah pandemi covid 19 dan semoga virus ini segera berakhir dari bumi ini sehingga aktivitas membangun pendidikan kembali normal.
Saya menyambut baik acara webinar internasional ini dengan mengusung tema "memelihara mutu pendidikan di tengah pandemi covid 19. 

Saya ucapkan terima kasih kepada Ketua Yayasan Umuussabri dan segenap jajarannya atas terselenggaranya webinar internasional ini.
Kita ketahui bersama bahwa ditengah pandemi ini bagi dunia pendidikan tidak ada kata lain, selain beradaptasi dan berdamai dengan Pandemi Covid-19 (disiplin pakai masker, disiplin jaga jarak, disiplin menjaga kebersihan diri).

Beradaptasi dan berdamai (adaptation and peace), Menurut saya, langkah ini menjadi keputusan terbaik, karena pandemi masih berlangsung dan belum tahu sampai kapan akan berakhir. (only God Knows)
“Di tengah adaptasi kebiasaan baru ini, pendidikan di sekolah, madrasah dan pesantren pun dituntut untuk mampu berkreasi dan produktif agar tidak tertinggal oleh dinamika keadaan yang berjalan serba cepat. Hanya dengan kreasi, inovasi, transformasi, produktif kita bisa membuat lompatan sejarah dan menghadirkan pendidikan yang bermutu kni dan dan mendatang.

Untuk itu saya mengharapkan agar dunia pendidikan di belahan bumi ini memiliki optimisme tinggi dan produktif dalam menjalani proses pengajaran. Optimisme dan semangat berproduktif harus dijadikan kiat untuk mencari keberkahan dari musibah Covid-19.
Kita harus mampu mengambil manfaat dari musibah Covid-19 dengan menciptakan inovasi dan kreativitas baru. 

Salah satu bentuk manfaat yang dapat kita petik dari Covid-19 adalah percepatan migrasi pembelajaran dari sistem konvensional ke digital sebagai jawaban yang tepat. 
Transformasi ke literasi digital sangat penting, dan tidak kalah penting guru menjadi fasilitator belajar yang baik, bukan zaman nya lagi guru akting dipanggung dan anak anak disuruh menonton. 

Ingat filsafat Thai Chi dari Cina (saya dengar dan saya lupa, saya melihat dan saya ingat, saya melakukan dan saya memahami). Filsafat ini perlu menjadi dasar mereform proses pembelajaran agar kita dapat menghasilkan SDM pekerja keras, dinamis, terampil, mandiri, menguasai IPTEK dan menghasilkan talenta-talenta global (arahan Presiden Jokowi). 

Guru segera menghadirkan transformasi pembelajaran dari materi pelajaran ke life skill. Dunia sangat membutuhkan SDM yang memiliki kecakapan hidup seperti kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, mencari informasi, berpikir kritis, kemampuan konseptual yang baik, menghitung, membaca, kolaborasi dst. Bila siswa hanya mendengar dan menyaksikan guru akting dipanggung, kapan life skill siswa ini terbangun jika siswa tidak melakukannya? 

Guru harus menjadikan materi pembelajaran sebagai jembatan emas membangun life skil, membangun karakter, membangun kompetensi dan membangun literasi (literasi calistung, lierasi baca, keuangan, budaya, lierasi teknologi, komunikasi dst)
Guru harus mengubah mindset dari besok saya mengajar apa menjadi besok siswa bisa apa. 

Pembelajaran secara virtual, membangun literasi digital dan alternatif tatap muka dengan menghadirkan transformasi pembelajaran, saya nilai sebagai proses inovasi, agar pembelajaran tidak ketinggalan tetapi berubah dan terus berubah karena semangat pendidikan adalah perubahan. Jawaban dari perubahan adalah perubahan. 
Mari kita terus berubah, saya ingin tidak hanya guru yang berubah tapi lingkungan sekolah, madrasah, pesantren, ruang kelas ikut berubah menjadi tempat rekreasi agar para komunitas pembelajar merasa aman nyaman untuk belajar dan bekerja.
Saya ucapkan terima kasih kepada para pengelola lembaga pendidikan, para kepala madrasah, para guru  yang berhasil melakukan inovasi-inovasi dalam proses keberlangsungan pendidikan di sekolah, di madrasah di era pandemi ini, hingga prestasi pendidikan kita saat ini kian lebih baik dan meroket.

Tak ketinggalan, inovasi virtual juga mewabah di tengah masyarakat. Pengajian dan perkumpulan emak-emak pun marak memakai zoom. Tukang sayur juga menawarkan dagangan dengan online / aplikasi zoom. Para ustadz marak mengisi pengajian dengan virtual. Semua elemen masyarakat dipaksa harus beradaptasi dengan kenormalan baru, kalau tidak ingin ketinggalan kereta.

Sekolah, Pesantren dan madrasah di Indonesia pun kini mulai membuka kembali proses pembelajarannya, sehingga para siswa berduyun kembali ke sekolah dan pondok. 
Di era Pandemi ini, ada pesantren yang ketat menerapkan protokol kesehatan misalnya satu kamar diisi 2-4 santri, namun banyak pula satu kamar diisi hingga 20 santri karena keterbatasan fasilitas kamar.

“Namun secara umum santri kembali menyantri dinilai lebih aman dari serangan Covid-19 daripada mereka di luar pesantren. Maka banyak orang tua yang gembira ketika pesantren kembali dibuka untuk belajar para santri.
Pemerintah terus memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadap pendidikan dengan memberikan bantuan anggaran untuk membantu pesantren dan lembaga pendidikan agama dan keagamaan di masa pandemi Covid-19 melalui program Bantuan Operasional, anggaran tersebut dapat digunakan untuk membeli paket internet. 
Biasakan anak untuk belajar daring (e- learning, e- library, e- book dst agar literasi digitalnya mumpuni di era digital saat ini.
Mari kita perbaiki niat dan komitmen membangun pendidikan berkualitas.
Saya titipkan pesan:
Impian Haruslah Menyala, dengan apapun yang kita miliki, Meskipun yang kita miliki tidak sempurna, Meskipun itu retak-retak …..
Thank you so much my friend
All healthy and good luck.
Terima kasih wassalam

Sumber : -
Penulis : Rio Tufail Ramadhan. SH
Editor : Syech
Dibaca : 73 kali