Jum'at, 03 Juli 2020

Dialog Kerukunan di Buton Utara, Kakanwil Ingatkan Pentingnya Mewujudkan Perdamaian melalui Moderasi Beragama

  • Kamis, 18 Juni 2020 12:33 WIB
Foto Bersama Kakanwil Kemenag Sultra, Fesal Musaad dengan Bupati Buton Utara, Abu Hasan dan para Tokoh Agama usai mengikuti Dialog Memelihara dan Mera

Buranga, (Humas Sultra) --- Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Fesal Musaad, mengungkapkan Indonesia bisa menjadi eksportir moderasi terbesar dan pusat laboratorium kerukunan dan perdamaian jika nilai persaudaraan atau ukhuwah menjadi panduan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Nilai Ukhuwah tersebut sangat penting dalam mewujudkan perdamaian yaitu meyakini secara absolut keyakinan agama kita dan saling memberikan ruang kepada orang lain untuk meyakini agamanya, Itulah yang disebut moderasi beragama,” terangnya pada Dialog Memelihara dan Merawat Kerukunan Umat Beragama Tingkat Kabupaten Buton Utara, kamis, (18/6/2020).

Turut hadir dalam dialog tersebut, Bupati Buton Utara, Abu Hasan, Ketua MUI Sultra, KH. Djakri Nappu, Kepala Kantor Kemenag Kab. Butur, Muh. Saleh dan unsur Forum Kerukunan Umat Beragama Kab. Buton Utara.

Dikatakannya, Negara harus hadir dalam mengatasi persoalan kerukunan. kita punya kewajiban mendorong toleransi dan kerukunan umat beragama. Menurutnya, Indonesia bukan negara agama tetapi bukan juga negara yang memisahkan negara dan agama. Hubungan negara dan agama seperti simbiosis mutualisme. Agama membutuhkan Negara dan Negara membutuhkan agama. Agama yang tidak dikontrol Negara akan sangat diktator, makanya bisa muncul radikalisme atas nama agama.

Olehnya itu, Kerukunan harus didorong dan terus didialogkan karena perbedaan yang tuhan berikan kadang tidak selalu menggembirakan, bisa menjadi faktor pemecah belah namun bisa juga menjadi faktor pemersatu. Kedamaian tidak akan terwujud jika kita tidak bersatu,” ujarnya.

Melalui dialog ini, ia mengajak untuk menjadi duta-duta perdamaian sekaligus menjadi spirit untuk terus menebarkan kedamaian, khususnya di Kab. Buton Utara sebagai daerah religius sesuai dengan Slogan Lipu Tinadeakona Sara yaitu negeri yang dibangun atas dasar budaya dana agama, dalam mewujudkan masyarakat Buton Utara yang aman, berbudaya, religious dalam bingkai NKRI.

Sementara itu, Bupati Buton Utara, Abu Hasan mengatakan Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu daerah yang dalam penetapan visinya adalah sebagai kabupaten yang religius. Ini merupakan peluang bagi pemeluk agama di Kab. Buton Utara untuk memperkuat identitas keagamaannya masing-masing sekaligus memperkuat identitas kenegaraan kita. Antara keduanya tidak boleh dipertentangkan.

Ia mengajak seluruh umat beragama untuk memperkuat komitmen, baik itu komitmen keindonesiaan, komitmen keumatan, komitmen kebangsaan dan komitmen keagamaan.

“Ini tidak boleh ditawar-tawar apalagi kita menghadapi era kompetisi global yang mengharuskan kita menjaga kekuatan identitas kita karena inilah benteng dalam menghadapi persaingan global,” terangnya.

Pada kesempatan tersebut para pemuka agama sepakat mengawal dan mensosialisasikan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di rumah Ibadah dalam mewujudkan masyarakat produktif dan aman dalam masa pandemic melalui penandatanganan kesepakatan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab. Buton Utara.

Sumber : Nisa Nurhayati
Penulis : Waliullah. S. IP
Editor : Waliullah. S. IP
Dibaca : 85 kali