Senin, 21 Oktober 2019

Buka Pentas PAI Nasional IX, Menag Tegaskan Hal Ini

  • Kamis, 10 Oktober 2019 18:21 WIB
Menag RI, Lukman Hakim Saifuddin Resmi Membuka Perhelatan Pentas PAI Nasional IX Ditandai dengan Menabuh Gendang, di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang M

Makassar, (Inmas Sultra)--- Perhelatan ajang dua tahunan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) Nasional IX, resmi dibuka oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar, Kamis pagi (10/10).

Sebelum membuka kegiatan, Menag yang didampingi ibu Trisna Willy Lukman Hakim, terlebih dahulu menyaksikan dan menerima defile kontingen Pentas PAI se Indonesia.

Dalam sambutannya, Lukman kembali menegaskan pentingnya Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah umum. Menurutnya, Pentas PAI dapat mendorong generasi milenial menjadi anak-anak yang sportif, kreatif, komunikatif, percaya diri, kritis dan berkepribadian tangguh.

"Karenanya, isu yang beredar di masyarakat mengenai akan dihapuskannya PAI di sekolah umum, tidaklah benar adanya. PAI tidak dapat dipisahkan dari kurikulum pembelajaran di sekolah, karena PAI mengajarkan moral dan etika, serta menjaga akhlak anak didik di tengah-tengah perkembangan zaman," tegas Lukman.

Kendati demikian, Lukman meyakini jika proses pembelajaran membutuhkan guru-guru yang memiliki jiwa pendidik sejati.

"Cara, pendekatan atau metode jauh lebih penting daripada materi. Namun, sehebat apapun cara atau metode, masih lebih penting kehadiran seorang guru karena guru itulah yang akan menjalankan metode tersebut. Tapi tak cukup sampai disitu, namun harus ada jiwa dalam bentuk cinta pada seorang pendidik. Cinta dalam jiwa pendidik jauh lebih penting dari kehadiran guru itu sendiri," jelasnya.

Berdasarkan kaidah tersebut, Menag mengajak para guru agar mendidik siswa-siswinya dengan penuh cinta terlebih yang diajarkan tersebut adalah PAI, karena Islam adalah agama yang damai, dan kedamaian tidak bisa ditebarkan dengan murka.

Dikesempatan tersebut, Menag kembali menyinggung pentingnya moderasi beragama, melalui perilaku yang tidak berlebih-lebihan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.

"Moderasi beragama adalah muara dari semua kebijakan pendidikan agama di Kementerian Agama. Untuk mewujudkan generasi yang moderat, kita perlu mengembangkan pendekatan pembelajaran agama yang memupuk kemampuan berpikir kritis, agar siswa memiliki kelenturan intelektual, dalam menimbang berbagai persoalan kehidupan," tambah Lukman.

Sebelumnya, Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Rohmat Mulyana Sapdi melaporkan,
Pentas PAI yang mengusung tema 'Keberagamaan Generasi Milenial yang Moderat', sengaja dipilih mengingat siswa-siswi yang menjadi peserta lomba adalah generasi milenial yang membutuhkan pemahaman dan pengetahuan keagamaan yang moderat.

"Penelitian menunjukkan, sekolah telah menjadi pintu masuk faham keagamaan yang intoleran yang perambatannya bisa melalui guru, kurikulum atau kegiatan keagamaan siswa. Untuk itu, pembinaan terhadap anak perlu dilakukan agar anak didik memiliki pandangan beragama yang moderat, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil'alamin," pungkas Rohmat.

Sumber : -
Penulis : Wa Ode Asnani. S. IP
Editor : Wa Ode Asnani. S. IP
Dibaca : 35 kali