Kamis, 19 September 2019

Kepala Kemenag Muna Ungkap Pelaksanaan Ibadah Haji di ARMUZNA

  • Minggu, 08 September 2019 18:16 WIB
Kepala Kemenag Muna Drs. H.Muhammad Basri, M. Pd Membawakan Kesan dan Pesan Dalam Rangka Penerimaan Kemnali Jama'ah Haji Kab. Muna, Musim Haji 1440 H

Raha (Inmas Sultra) --- Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten (Kab) Muna, Drs. H. Muhammad Basri, M.Pd, selaku Ketua Rombongan (Karom) Jama'ah Haji Kab Muna musim Haji 1440 H/2019 M,  bersama 55 Jamaah Haji lainnya, hari ini Jumat (6/9) tiba kembali di Kab. Muna, diterima oleh Pemerintah Kab. Muna, di Masjid Al Markaz Al Islami Al Munajat Raha setelah kurang lebih 40 hari melaksanakan Ibadah Haji di tanah suci Makkah Arab Saudi.

Dari 57 Jamaah Haji Kab. Muna, ada satu jama'ah yang dikabarkan sakit, atas nama Hj. Wa Ode Nika binti H. Raona, dan sampai saat ini, masih dirawat di Rumah Sakit Al Anshor Madinah Arab Saudi.

 H. Muhammad Basri, dalam membawakan kesan dan pesannya, mengatakan bahwa, mudah-mudahan apa yang saya sampaikan pada kesempatan ini terbesit dalam hati kita, bagaimana sebenarnya perhajian ini. Benar kata Rasulullah Muhammad SAW, bahwa Al Hajju 'Arafah ( Inti Ibadah Haji adalah Wukuf di Arafah).

" Kurang lebih 40 hari kami berproses dalam melaksanakan Ibadah Haji, kurang lebih 6 hari kami berproses di ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah dan Mina), itu lebih berat perjuangan yang kami lakukan daripada beberapa hari sebelumnya," ujarnya.

" Kesan yang paling mendalam yang saya rasakan adalah ketika kami berada di Padang Arafah, yaitu kami merasakan bahwa kita di kumpul disana untuk menunggu, seolah-olah kita berada di Padang Mahsyar untuk menanti kita akan dihisab, kita akan diperiksa satu per satu, kita duduk termenung, merenungi semua apa yang pernah kita perbuat, merenungi kesalahan-kesalahan kita, dosa-dosa kita, baik yang diperbuat oleh mata, telinga, hidung, mulut, lidah, tangan, kaki dan syahwat kita, semuanya kita renungkan, apakah itu dosa-dosa yang kita lakukan dosa besar atau dosa kecil, dosa yang sengaja atau tidak,  dosa yang nampak atau tidak, apakah itu dosa-dosa yang telah lalu, sekarang dan yang akan datang, semuanya itu kita tobatkan, kita istighfarkan, kita mohon diampunkan oleh Allah SWT, kejadian ini tanggal 9 Dzulhijjah, mulai waktu Dzuhur, sekitar pukul 12 siang hingga matahari terbenam, sekitar pukul 6 sore," lanjutnya.

Selanjutnya kata H. Muhammad Basri, ketika matahari tenggelam pada hari itu, kami mabit (menginap) di Muzdalifah sambil mengambil kerikil untuk melontar Jumrah, dan pada tanggal 10 Dzulhijjah, kami bertolak dari Muzdalifah ke Mina, untuk melontar Jumrah
 Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah.

Setelah melontar Jumrah, lanjut H. Muh. Basri, dilanjutkan dengan Tahallul (mencukur rambut)  kemudian diperbolehkan memakai pakaian biasa, dan setelah tahallul, kembali ke Mina, menginap 2 hari yaitu tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah.

" Setelah mabit dan melontar Jumrah di Mina, Jama'ah menuju Makkah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah dan dilanjutkan dengan Sa'i," ungkapnya.

" Usai menyelesaikan seluruh ritual haji, Jama'ah melaksanakan Tawaf Wada, sebelum meninggalkan Makkah untuk kembali ke tanah air," imbuhnya.

" Sangat terbesit hati kami, ketika kami akan meninggalkan Makkah, ketika melakukan Tawaf Wada (perpisahan), Tawaf mohon diri pada Baitullah Ka'ba yang kurang lebih 5 hari, 5 kali sehari semalam kami menghadap kepadanya untuk menyembah Allah SWT, tetapi pada saat itu kami akan meninggalkannya," tambahnya.

" Dan selanjutnya ketika kami akan meninggalkan Madinah dalam aktifitas melaksanakan Shalat Arba'in di Masjid Nabawi,  betapa tidak, seolah-olah kami Shalat bersama Rasulullah, Shalat disamping Rasulullah Muhammad SAW," pungkasnya.

Sumber : -
Penulis : Drs. La Ode Yadi/Kemenag Kab. Muna
Editor : Syech
Dibaca : 58 kali