Rabu, 12 Desember 2018

GURU : TANTANGAN DAN HARAPAN

  • Selasa, 27 November 2018 14:56 WIB
foto Irwan Samad, S. Pd. I. M. Pd.

 

(Catatan Penting Hari Guru Nasional 2018)

Oleh : Irwan Samad, S.PdI, M.Pd*

 

K

ementerian Pendidikan Kebudayaan telah merilis pidato Muhadjir Effendy yang dibacakan pada tanggal 25 November 2018, menandai Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2018.  Tema besar yang diangkat dalam pidato tersebut adalah Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad XXI. Mencermati isi pidato tersebut mengisyaratkan betapa tugas dan tanggung jawab yang diemban guru amatlah mulia dan berat. Terlebih lagi saat ini, kita diperhadapkan dengan era revolusi industri 4,0 yang telah menggeser pola pembelajaran konvensional menuju pembelajaran berbasis digital. Pembelajaran pola lama kini mulai ditinggalkan beralih ke pembelajaran elektronik. Perubahan besar-besaran ini terjadi seiring dengan era disrupsi yang oleh Muh. Nur Rizal, Ketua Grup Riset Literasi Digital UGM, diungkapkan bahwa situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru (Republika.co.id). Sehingga tidak ada pilihan lain, melainkan guru harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Beratnya tantangan guru ini tentunya menuntut profesionalisme guru yang terkristalisasi dalam sikap integritas dan komitmen untuk selalu meningkatkan kualitas dan kapasitas diri, sehingga mampu beradaptasi dengan tantangan dunia global.

Derasnya perkembangan teknologi informasi yang juga telah merambah dunia pendidikan dewasa ini, tentu tak dapat dibendung. Internet dapat diakses oleh siapa, kapan dan dimana di saja bahkan hingga ke pelosok desa sekalipun. Hadirnya fenomena Artificial Intelligence (AI) yang didesain sebagai mesin pencari informasi yang akurat, cepat dan interaktif tentu akan sangat membantu tugas-tugas guru di kelas. Guru harus mampu memanfaatkan supremasi teknologi informasi tersebut sebagai media untuk berkolaborasi dengan peserta didik dalam setiap model pembelajarannya. Karenanya, diperlukan guru–guru yang memiliki inovasi dan kreativitas tinggi sehingga mampu memfasilitasi dan menyajikan pembelajaran yang interaktif, partisipatif dan menyenangkan. Terlebih lagi, guru-guru saat ini tengah berhadapan dengan generasi milenial dan Z, yang sangat familiar dengan dunia internet dan media sosial.

Guru dan Karakter Bangsa.

Meskipun pendidikan saat ini telah berbasis teknologi informasi dan mereduksi sebagian tugas –tugas-guru, namun tidak berarti tanggung jawab guru telah selesai. Justru dalam konteks ini, peran guru tentu semakin dibutuhkan. Peran guru sebagai pendidik akan tetap aktual dan relevan. Guru berperan penting sebagai pengawal moralitas dan karakter bangsa di tengah maraknya konten-konten negatif berisi ujaran kebencian, pornografi, hoaks dan cybercrime lainnya. Tentu konten-konten tersebut sedikit banyak memberikan pengaruh bagi cara pandang, kejiwaan, perilaku serta sikap peserta didik. Konten yang disajikan dalam internet, bagai pisau bermata dua. Di samping berisi informasi yang positif dan bermanfaat, informasi yang negatif juga tak kalah banyaknya. Jika tidak disikapi secara arif bukan tidak mungkin justru akan membawa mapaletaka bagi dunia pendidikan itu sendiri. Untuk itu, guru diharapkan tampil sebagai garda terdepan mengawal, memberi inspirasi dan membentengi karakter generasi muda bangsa dari terpaan negatif perkembangan teknologi informasi, tentu dengan melibatkan para pihak termasuk keluarga dan masyarakat.

Profesionalisme Guru dan Kesejahteraan

Memang bukan hal pekerjaan mudah bagi seorang guru membangun karakter bangsa yang cerdas, tangguh, berdaya saing tinggi di tengah persoalan kesejahteraan yang membelit sebagian guru-guru kita. Membahas tentang guru pada satuan pendidikan, dapat dikelompokkan dalam 5 kategori, Pertama, Guru Apatarur Sipil Negara (ASN) yang telah tersertifikasi dan menerima tunjangan profesi, Kedua, Guru ASN tapi belum tersertifikasi dan belum menerima tunjangan profesi. Ketiga, Guru Honorer tapi telah inpassing (penyetaraan jabatan guru), telah tersertifikasi dan menerima tunjangan profesi. Keempat, Guru Honorer non inpassing dan sudah tersertifikasi dan menerima tunjangan profesi. Dan kelima, Guru Honorer non inpassing dan tidak tersertifikasi dan tidak menerima tunjangan profesi, Boleh jadi kelompok pertama, kedua dan ketiga, dan keempat persoalan kesejahteraan (terutama dari sisi penghasilan) tidak telalu dirasakan dampaknya, namun, bagi guru kelompok kelima inilah yang tentu merasakan langsung. Populasi mereka pun tidak sedikit, hampir 2/3 guru-guru kita baik di sekolah negeri maupun swasta didominasi oleh kelompok keempat dan kelima. Makanya tidak heran mereka harus nyambi untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi mereka yang menjadi korban kebijakan diskriminatif pemerintah melalui PP Nomor 11 Tahun 2017 dan Permenpan RB Nomor 35 Tahun 2018 yang membatasi usia pelamar CPNS maksimal 35 Tahun. Padahal mereka telah puluhan dan belasan tahun mengabdikan diri mencerdaskan anak-anak bangsa. Tentu hal ini membuat asa mereka untuk mendapatkan kesejahteraan semakin tidak jelas. Keihklasan dan panggilan jiwalah yang membuat mereka dapat bertahan hingga saat ini. Semoga Hari Guru Nasional ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen guru dan mensejahterakan guru secara merata sehingga dengannya dapat meningkatkan profesionalisme guru untuk pendidikan Indonesia yang lebih maju, berkarakter dan berdaya saing tinggi. Selamat Hari Guru Nasional.

*Penulis adalah Kepala MA Asy-Syafiiyah Kendari, Ketua PGMI Kota Kendari.

Sumber : Irwan Samad (Kamad MAS As Syafiyah Kendari)
Penulis : Rahmad. S.Pd., M.Pd
Editor : Syech
Dibaca : 73 kali