Sabtu, 17 November 2018

Kakanwil Kemenag Sultra: Kedepankan Moderasi Agama Untuk Sikapi Keragaman

  • Minggu, 04 November 2018 05:56 WIB
Suasana Dialog Kerukunan Umat Beragama dengan Berbagai Kalangan dan profesi

Kasipute (Inmas Sultra) --- Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Subbagian Hukum dan Kerukunan Umat Beragama (KUB) menggelar dialog kerukunan umat beragama dengan berbagai kalangan dan profesi. Hal ini, dimaksudkan untuk memperkokoh kerukunan umat beragama dengan mengedepankan moderasi agama untuk sikapi keragaman dalam bingkai NKRI. Sebagaimana disampaikan narasumber utama kepala kanwil Kemenag Sultra, Dr. H. Abdul Kadir, M. Pd. mengawali sambutannya dalam dialog yang digelar Sabtu (03/11) dipusatkan di Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana.

Kegiatan dialog ini juga menghadirkan empat narasumber lain Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Sultra, Drs. Joko, M. Pd., Kepala Kantor Kemenag Bombana, H. Jumaing, Kapolsek Lantari Jaya, Ketua FKUB Kab. Bombana, dan Kasubag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag Sultra, H. Muh. Kadir Asis, S. Ag. M.M.

Sebagaimana dilaporkan kepala sub bagian Hukum dan KUB Kenwil Kemenag Sultra H. Muh. Kadir Asis Yafie bahwa Peserta yang dilibatkan dalam dialog ini sebanyak 50 orang, terdiri dari unsur pemuda penggerak kerukunan, dari tokoh-tokoh agama Islam, Kristen, Hindu. Buddha. Dengan mengusung tema "Membumikan dan memantapkan trilogi kerukunan umat beragama".

Selanjutnya, Kepala Kanwil Kemenag Sultra, Dr. H. Abdul Kadir, M. Pd. Dalam materinya, dia mengatakan bahwa dengan adanya peningkatan kualitas pemahaman pendidikan beragama akan menciptakan kerukunan, kedamaian, kerja sama yang baik, serta saling pengertian antar umat beragama.

“Yang menjadi program strategis Kementerian Agama memiliki kewajiban untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Kita memiliki tanggung jawab untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan agama dan keagamaan. Kita tidak akan rukun, tidak akan damai, tidak ada kerja sama yang baik, tidak ada saling pengertian kalau tingkat pemahaman agama itu rendah. Di tangan penyuluh, pendeta, ustaz, kiayi menjadi garda terdepan untuk melakukan pemahaman dan pengamalan ajaran agama” paparnya.

Masih Kakanwil Kemenag Prov. Sultra, mengatakan “Tegaknya, majunya NKRI sangat ditentukan 3 hal. Yang pertama tingkat kemampuan kita menjaga kemajemukan di negeri ini. Allah menganjurkan umat Islam untuk berbuat adil dan berbuat baik kepada semua umat manusia. Tidak ada penekanan berbuat adil hanya kepada orang Islam” tandasnya.

Menurut dia yang harus kita jaga keragaman kita bahwa keragaman dalam banyak aspek tidak dapat kita hindari. Justru perbedaan itulah yang dapat memperkaya kita, lebih mendewasakan kita bahwa ternyata di balik diri kita masih ada yang lain yang punya kelebihan dan kekurangan untuk saling mengisi.

Kedua, menurut mantan instruktur nasional P-4 di zaman Orde baru, tegaknya NKRI karena adanya pembangunan demokrasi di NKRI. Hal ini , mempunyai kepekaan untuk menyerap aspirasi tuntutan kebutuhan masyarakat kita melalui saluran partai politik. Ketiga, kalau negeri mau baik, aspek kesejahteraan harus kita jaga siapa pun pemimpin kita. Kesejahteraan umat harus kita perbaiki. Intensitas membangun komunikasi dengan mereka di rumah ibadah, di rumah mereka sangat membantu menguatkan, mengeratkan ikatan emosional antara pimpinan umat beragama dan jamaah.

Kakanwil Kemenag Sultra yang juga dosen di IAIN berpesan kepada orang tua terhadap anak-anak mereka agar mendekatkan anak-anak mereka kepada kitab suci dan rumah ibadah apa pun agamanya.

“Di forum umat beragama ini saya berpesan dua hal, mari kita bertanggung jawab kepada umat kita untuk mendekatkan generasi muda kita dengan kitab suci. Umat Islam dekatkan anak-anak kita dengan Alquran, umat Kristen dekatkan dengan Kitab Injil demikian pula pada agama lain. Kelebihan membaca kitab suci dengan sumber bacaan lain adalah akan membantu memberikan ketenangan jiwa pada anak-anak yang intens membaca itu. Dan yang kedua dekatkan anak-anak dengan rumah ibadah. Umat muslim dekatkan dengan mesjid. Umat Hindu dekatkan dengan Pura, Buddha dengan Vihara. Berikan pendidikan sekolah yang baik dan kita harus kontrol mereka antara di rumah dan di luar rumah” pesannya.

Selaku Kepala Kanwil Kemenag Sultra, pihaknya mengajak umat beragama untuk mempererat hubungan antarumat beragama.

“Mari kita eratkan hubungan antar umat beragama. Kita perlu membangun kepercayaan satu sama lain. Kita tidak perlu saling mencurigai. Kita harus saling pengertian dan saling menghormati. Kerja sama antarumat beragama juga penting. Ketika umat lain membutuhkan bantuan maka segera membantu mereka tanpa memaksakan mereka untuk masuk agama kita” ajaknya.

Masalah Kerukunan Umat Beragama (KUB) sebagai Kebutuhan Pemersatu Bangsa H. Abdul Kadir menambahkan bahwa kaitannya dengan pengembangan wawasan multikultural, peningkatan wawasan kebangsaan dalam menjaga NKRI serta penguatan moderasi agama dalam nilai-nilai kehidupan. Pihaknya menjelaskan bahwa Kegiatan ini sangat penting dilaksanakan karena merupakan bagian dari proses peningkatan wawasan multikultural, di mana tahun ini merupakan tahun politik yang perlu kita sama-sama jaga dan memberikan rasa aman dan damai dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

H. Abdul Kadir menutup materinya bangsa Indonesia sebagai Negara plural dan multikultural, menurut dia keberagaman yang ada di Indonesia yang tak ternilai harganya adalah suatu kekayaan bangsa. Keberagaman yang jika terjaga dengan baik akan tampak seperti mozaik yang indah, tetapi jika sebaliknya maka segala bentuk perbedaan yang ada akan menjadi senjata yang bisa memecah belah bangsa Indonesia. Untuk itu, diharapkan kepada seluruh umat beragama agar selalu menjaga kerukunan umat beragama sehingga negara Indonesia selalu aman dan damai.

Sumber : -
Penulis : Rahmad. S.Pd., M.Pd
Editor : Rahmad. S.Pd., M.Pd
Dibaca : 60 kali