Sabtu, 17 November 2018

MEMPERKUAT PERAN TRIPUSAT PENDIDIKAN KAWASAN ZONA MERAH

  • Minggu, 09 September 2018 06:51 WIB

Oleh : Irwan Samad

Di bawah sengatan terik matahari, seorang remaja usia sekolah tengah asyik menikmati kepulan asap rokoknya. Balutan pakaian lusuh dan rambut pirangnya, semakin menambah kumal penampilannya. Tiupan sumpritan berdesing sembari ia sibuk mengatur parkiran kendaraan di kawasan pasar. Di tempat terpisah, sekawanan siswa berseragam sekolah tengah asyik bermain mobile legends. Mereka tampak seru menikmati game di warung internet samping sekolah. Padahal waktu belajar di sekolah pun masih tengah berlangsung. Mereka tampaknya sedang membolos.

Dua penggalan kisah di atas adalah potret satuan pendidikan terletak di kawasan sentra perekonomian masyarakat. Pasar, pelabuhan, terminal, dan pelelangan ikan merupakan tempat-tempat yang memiliki resiko tinggi bagi lingkungan pendidikan. Mengapa demikian? Karena aktivitas masyarakat yang heterogen di sekitarnya acapkali membawa pengaruh yang kurang menguntungkan bagi atmosfir pendidikan.

Tatanan nilai-nilai moral yang dibangun oleh satuan pendidikan, dapat tercemari oleh buruknya lingkungan yang ekstrem. Dalam konteks ini, penulis mengistilahkan dengan sekolah di Kawasan Zona Merah. Demikian pula jika dilihat dari intensitas problematika pada satuan pendidikan di kawasan tersebut, berpuluh-puluh kali lipat dibandingkan dengan satuan pendidikan di tempat lain. Karena tempat-tempat tersebut memiliki resiko kerawanan sosial yang sangat tinggi, potensi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba menjadi ancaman setiap saat.

Berdasarkan data yang diperoleh, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari merilis 149 kasus penyalahgunanan narkoba per Juli 2018 didominasi oleh kalangan pelajar dan mahasiswa sebesar 80 persen. Bahkan mirisnya mereka bukan saja berperan sebagai penggguna, namun juga sebagai pengedar/kurir (Kendari Pos 14/7/2018). Demikian pula tindakan kriminalitas dan premanisme yang didapatkan dari buruknya lingkungan dapat menjangkiti lingkungan pendidikan. Boleh jadi daya immun sekolah mampu membendung derasnya pengaruh buruk tersebut, akan tetapi ketika anak kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat tempat mereka tinggal dan beraktivitas, akan menimbulkan kontra produktif.

Di sisi lain, kerasnya tuntutan realitas kehidupan dewasa ini, acapkali memaksa seorang anak untuk ikut terlibat dalam pergumulan ekonomi keluarga. Dengan dalih membantu orang tua, seorang anak harus rela mengorbankan masa belajar untuk sekedar mencari sesuap nasi. Terpaksa ia harus berhenti bersekolah karena beban hidup yang semakin menghimpit. Sementara itu, anak pun terbiasa mendapatkan uang secara instan. Dalam benaknya ia berkata untuk apa susah susah bersekolah, berhenti pun toh saya juga bisa mendapatkan uang dengan gampang. Hanya dengan modal sumpritan, ia pun bisa mendapatkan seonggok uang, membeli rokok dan seterusnya dan seterusnya.

Realitas ini semakin diperburuk dengan perspektif sebagian keluarga yang sangat permisif. Ketidakpedulian sebagian orang tua terhadap aktivitas anak menjadi pemicu perilaku negatif anak. Alasannya pun beragam. Mulai dari alasan klasik karena kesibukan orang tua hingga tak punya banyak waktu untuk sekadar mengetahui perkembangan perilaku anak. Bagi mereka, perhatian telah diberikan apabila telah menyediakan sejumlah uang, sementara mereka tidak mengenal sepak terjang anak mereka di luar sana.

Sementara kisah kedua menggambarkan tentang sistem pengawasan sekolah yang tidak berjalan dengan baik. Longgarnya sistem pengawasan sekolah acapkali dimanfaatkan oleh segelintir anak untuk menyalurkan “kegemarannya” meskipun di jam belajar. Padahal tempat sekawanan anak bermain tidak jauh dari sekolah tempat mereka belajar. Kelakuan anak semakin menjadi akibat ketidakpedulian segelintir masyarakat tentang pentingnya tanggung jawab pendidikan. Bagi mereka yang penting dapat meraup keuntungan materi, tak peduli mau jam sekolah atau tidak yang penting mereka bisa mendapatkan keuntungan. Tentu kejadian ini bisa dihentikan apabila masyarakat ikut berperan. Jika masyarakat memiliki aware dan kepedulian yang tinggi terhadap tanggung jawab pendidikan, seharusnya mereka tidak membuka layanan warnetnya pada jam sekolah.

Dari dua kisah yang penulis ketengahkan, cukup menjadi bukti betapa komponen tripusat pendidikan, yakni masyarakat, keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat strategis. Jika salah satu di antara ketiganya tidak menjalankan fungsinya dengan baik, maka akan mengakibatkan terputusnya mata rantai pendidikan. Karenanya, untuk mewujudkan tujuan pendidikan dan melahirkan sumber daya manusia yang cerdas, kuat dan berdaya saing tinggi diperlukan langkah-langkah strategis :

Pertama, Keluarga dan masyarakat sebagai lembaga pendidikan informal dan non formal harus mampu bersinergi dengan ikut membantu mengarahkan, membimbing dan menanamkan nilai dan etika yang baik kepada anak. Sinergitas yang terbangun dari tripusat pendidikan ini akan menjadikan iklim yang kondusif bagi perkembangan pendidikan anak di sekolah. Tanggung jawab pendidikan tidak semata dibebankan oleh sekolah. Karenanya komunikasi yang intens dan efektif harus terbangun antara keluarga dan masyarakat dan sekolah, sehingga antara ketiga komponen tersebut memiliki visi yang sama. Komunikasi ini dapat dilakukan secara formal melalui pertemuan secara berkala dengan orang tua dan masyarakat, juga dapat dilakukan secara tidak formal dengn memanfaatkan media komunikasi berbasis teknologi informasi.

Kedua, Memperkuat peran komite sebagai representase dari orang tua dan masyarakat. Selama ini peran komite masih belum dioptimalkan. Sejauh pengamatan penulis, pemberdayaan komite masih bersifat parsial. Artinya komite diperlukan saat ada pembahasan tentang biaya pendidikan. Padahal problematika di sekolah tidak semata persoalan uang. Adanya perspektif sebagian keluarga dan masyarakat yang masih mengesampingkan niai-nilai pendidikan dapat diluruskan melalui wadah ini.

Ketiga, dalam konteks yang lebih detail masyarakat atau keluarga dapat membuat paguyuban atau sejenisnya seperti parenting club untuk ikut berpartsipasi secara aktif dan mendukung program sekolah. Dengan demikian, penulis meyakini, jika tripusat pendidikan ini berfungsi dan berperan dengan baik, maka apa yang menjadi harapan keluarga, masyarakat maupun sekolah dapat terwujud. Wallahu a’lam bil al-Sawab.

*Penulis Penggiat Pendidikan, dan Ketua Umum Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Kota Kendari

BIODATA PENULIS
Nama : Irwan Samad, S.PdI. M.Pd

Tempat Tanggal Lahir : Wawotobi, 20 Mei 1977

Alamat : Jl. Mekar Jaya 1 Kel. Punggolaka Kec. Puuwatu Kota Kendari
Pekerjaan : PNS
Jabatan : Kepala MTs. Asy-Syafiiyah
Pendidikan Terakhir : S2 / Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan Islam IAIN Kendari
Pengalaman Organisasi : Ketua Umum DPD Persatuan Guru Madrasah Kota Kendari periode 2017-2022

Sumber : Irwan Samad
Penulis : Rahmad. S.Pd., M.Pd
Editor : Rahmad. S.Pd., M.Pd
Dibaca : 118 kali