Sabtu, 17 November 2018

BERSAMA KITA HEBAT (Merawat Sinergitas Keluarga, Masyarakat dan Sekolah)

  • Selasa, 04 September 2018 10:29 WIB

Anak adalah anugerah Tuhan yang paling berharga. ia adalah karya dari sang Maha Hebat. Kedudukannya tak bisa tergantikan dengan apapun. Ia pun tak dapat dinilai dengan materi. Orang tua rela melakukan apa saja, semata untuk membahagiakan anak.

Perhatian, perawatan, kasih sayang, sampai kepada urusan pendidikan, anak seharusnya tak boleh diurus secara remeh. Anak berhak mendapatkan perhatian istimewa dari kedua orangtuanya. Tentu dengan kadar yang proporsional. Hanya saja, sebagian orang tua gagal paham dengan pentingnya pendidikan dalam keluarga. Tidak jarang orang tua salah kaprah dalam mempersepsikan kebahagiaan anak. Dalam pandangan mereka, wujud perhatian orang tua jika telah memberi sejumlah uang.

Melengkapinya dengan sederet fasilitas mewah. Anak dibekali credit card, smartphone, bahkan tak jarang mobil. Hal ini dilakukan agar mereka dapat membahagiakan anak. Namun, bukan kebahagiaan yang diperoleh, melainkan nestapa. Kekeliruaan dalam menerapkan pola asuh, banyak keluarga yang kurang harmonis.

Bahkan tak jarang berujung petaka. Memberikan perhatian secara tidak proporsional, mengakibatkan anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang manja, tidak mandiri, tidak bersosialisasi dengan sebayanya. Kadangkala anak lebih akrab dengan barang-barang yang ada di tangannya padahal ia bersama dengan orang tuanya.


Di sisi lain, adapula orang tua yang sama sekali kurang memperhatikan perkembangan aktivitas anaknya. Anak bergaul dengan siapa, pergi ke mana saja, orang tua kurang peduli. Tingginya angka anak-anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, akibat tidak berfungsinya keluarga sebagai institusi pendidikan di rumah.

Berdasarkan data BNN Kendari per Juli 2018, 80 persen dari 149 kasus penyalahgunaan narkoba di Kota Kendari adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Bahkan yang lebih memprihantinkan lagi adalah mereka juga berperan sebagai kurir / pengedar. Orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan dalam keluaga tidak menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Ayah, Ibu dan saudara, semua tak memiliki waktu kendati hanya sekedar menyapa. Mereka tak punya waktu luang untuk bercengkrama karena sibuk dengan urusan masing-masing.

Sinergi Keluarga dan Sekolah
Tentu setiap orang tua mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Dimulai dengan pendidikan dalam keluarga, secara informal peran ayah dan ibu seharusnya mengfungsikan rumah sebagai sekolah. Banyak nilai pendidikan yang diperoleh dalam keluarga. Terutama penanaman dan pembinaan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Keluarga berperan penting dalam pembentukan watak dan kepribadian anak. Apa dan bagaimana perilaku dan akhlak anak, akan sangat tergantung bagaimana orang tua mendesain model pendidikan dalam keluarganya. Sehingga keluarga memiliki peran yang sangat strategis terhadap perkembangan psikologi anak selanjutnya. Dalam banyak kasus, pendidikan dalam keluarga kurang banyak diperhatikan. Variabel penyebabnya pun beragam. Mulai dari kesibukan orang tua sehingga tak punya banyak waktu untuk mendidik anak-anaknya. Sampai kepada lifestyle orang tua sebagai akibat pergeseran nilai masuknya budaya asing yang tidak mementingkan institusi pendidikan dalam keluarga.

Sebagian keluarga memilih menyerahkan urusan pendidikan kepada pihak lain. Kepada pembantu atau penitipan anak. Tentu ini adalah dilema. Di satu sisi keluarga menginginkan yang terbaik buat anak, di sisi lain mereka tak punya banyak waktu untuk mendidik anak karena aktivitas kesibukan di luar rumah. Tak masalah sebenarnya, namun akan jadi masalah ketika nilai-nilai pendidikan menjadi terabaikan.

Dalam tahap perkembangan selanjutnya, anak memasuki usia sekolah. Orang tua sangat selektif memilih sekolah yang terbaik buat anak-anaknya. Tak jarang orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tertentu kendatipun dengan biaya yang relatif tinggi. Dewasa ini mahalnya biaya pendidikan tidak lagi menyurutkan hasrat dan harapan orang tua terhadap pendidikan anaknya. Industri pendidikan pun kini marak bak jamur di musim hujan. Menawarkan pilihan kepada masyarakat. Beragam motivasi orang tua memilih sekolah untuk anaknya. Ada yang memilih karena sekolah tersebut memiliki konsep, identitas serta tradisi pemahaman agama yang kuat. Adapula yang memilih sekolah karena tertarik dengan konsep integrasi keilmuan yang memadukan konsep keislaman dengan keilmuan sains dengan tata kelola yang modern. Sehingga orang tua sebagai user memiliki banyak pilihan model dan apa yang tepat bagi anaknya.

Dalam konteks ini, sebetulnya yang diperlukan adalah bagaimana institusi keluarga memiliki sinergi yang kuat dalam menjembatani perkembangan anak di sekolah. Nilai-nilai pendidikan dalam keluarga akan berkolaborasi dengan pendidikan di sekolah.

Pembinaan kepribadian anak yang dilakukan dalam lingkungan keluarga akan terdiaspora dalam lingkungan sekolah. Misalnya dalam lingkungan keluarga, anak didik untuk bersikap jujur, patuh, dan bertanggung jawab. Saat anak berada dalam lingkungan sekolah, nilai nilai karakter tersebut menyatu dengan konsep pendidikan di sekolah. Demikian pula jika di sekolah anak dididik untuk disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya, maka nilai tersebut akan terimplementasi dalam lingkungan keluarga. Sehingga model pendidikan dua arah ini saling menguatkan antara satu dengan lainnya. Komunikasi yang terbangun antara keluarga dan sekolah memberi dampak yang positif antar kedua belah pihak. Tidak mesti secara formal membangun komunikasi ini. Apalagi saat ini kita sangat terbantu dengan teknologi informasi. Penggunaan media sosial sebagai bagian dari pelayanan pendidikan adalah strategi yang dapat dilakukan di tengah padatnya aktivitas dan kesibukan orang tua. Mereka akan sangat mudah melakukan komunikasi dengan pihak sekolah terkait perkembangan anak. Peran serta keluarga dalam menyukseskan program sekolah akan sangat dibutuhkan. Mereka dengan sangat terbuka dapat menyampaikan masukan bahkan kritikan yang membangun untuk kemaslahatan sekolah.

Yang jadi persoalan saat ini adalah terjadinya kontraproduktif antara lingkungan pendidikan di sekolah dan keluarga terhadap lingkungan masyarakat. Masyarakat yang sifatnya heterogen acapkali kurang memberikan kondusivitas terhadap nilai-nilai pendidikan yang terbangun antara sekolah dan keluarga.

Kepribadian anak yang dibentuk dalam keluarga dan sekolah akan berhadapan dengan situasi lingkungan masyarakat yang belum tentu semua baik bagi perkembangan anak. Karenanya, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dengan ikut menciptakan dan merawat sinergi yang terbangun antara sekolah dan keluarga. Peran serta masyarakat dapat dilakukan dengan menyediakan fasilitas publik yang mendukung terbangunnya nilai karakter seperti sarana olahraga, taman baca dan galeri remaja. Sarana ini dapat digunakan oleh anak-anak untuk menyalurkan kreativitasnya.

Masyarakat juga dapat berperan sebagai supervisor. Mengawasi proses pendidikan di sekolah. Tentu dalam perspektif yang konstruktif. Menjadi bagian dari komunitas sekolah. Akhirnya, penulis meyakini jika sinergitas antara keluarga, masyarakat dan sekolah ini terbangun dan dirawat dengan baik, bukan mustahil akan lahir generasi bangsa yang hebat dan bermartabat. Karenanya, bersama kita hebat.
Wallahu a’lam bi al-shawaab.


Penulis adalah penggiat pendidikan, Ketua Umum Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Kota Kendari.

BIODATA PENULIS

Nama : Irwan Samad, S.PdI. M.Pd

Tempat Tanggal Lahir : Wawotobi, 20 Mei 1977
Alamat : Jl. Mekar Jaya 1 Kel. Punggolaka Kec. Puuwatu Kota Kendari
Pekerjaan : PNS
Jabatan : Kepala MA. Asy-Syafiiyah
Pendidikan Terakhir : S2 / Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan Islam IAIN Kendari


Pengalaman Organisasi : Ketua Umum DPD Persatuan Guru Madrasah (PGMI) Kota Kendari periode 2017-2022 HP : 0813416836778

Sumber : Irwan Samad
Penulis : Rahmad. S.Pd., M.Pd
Editor : Rahmad. S.Pd., M.Pd
Dibaca : 117 kali