Kamis, 20 September 2018

KEAHLIAN MENJAWAB SOAL UJIAN NASIONAL

  • Jum'at, 19 Agustus 2016 10:02 WIB

Oleh : Moh. Safrudin,S.Ag, M.PdI

 

( Staf Pengajar MAN 1 Kendari dan Pengasuh Acara SINAR RRI Kendari)

 

Pada hari ini, Senin tanggal 16 April 2012 para siswa SMA, MA, dan SMK memulai ujian nasional. Semua peserta ujian ingin lulus dan mendapatkan nilai terbaik. Mereka yang terlibat dalam pelaksanaan ujian ini telah menyiapkan segala sesuatu dengan baik. Semua pihak berkeinginan agar ujian dapat terlaksana dengan lancar dan tidak ada gangguan apapun yang bisa mengurangi nilai kejujuran dan obyektifitasnya.

Menghadapi ujian ini para siswa sudah mempersiapkan     jauh sebelumnya. Mereka menganggap bahwa ujian nasional adalah merupakan  momentum  penentu  nasib  mereka yang  akan  datang. Tanpa mengikuti dan lulus ujian nasional maka tidak akan berpeluang untuk meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Selain itu, lulus ujian nasional juga dijadikan persayaratan untuk melamar pekerjaan atau persyaratan lainnya.

Sedemikian penting arti ujian nasional bagi para siswa, sehingga kegiatan itu menjadi perhatian masyarakat luas. Di antara mereka ada mendukung hingga bahkan ada yang mengkritik kebijakan itu. Para pengkritik berpandangan bahwa tidak semestinya nasib para siswa hanya ditentukan dalam beberapa hari, yaitu pada saat ujian nasional. Alasan lain bagi orang yang berkeberatan diselenggarakan ujian nasional adalah bahwa, semestinya yang berhak mengevaluasi kepintaran siswa adalah para guru sekolah yang bersangkutan. Pihak sekolah adalah yang lebih tahu kehidupan sehari?hari para siswa sehingga dalam melakukan evaluasi akan lebih obyektif dan komprehensif.

Keberatan?keberatan tersebut telah dijawab oleh pihak pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Misalnya bahwa, ujian nasional bukan satu?satunya penentu kelulusan siswa. Kelulusan siswa juga mempertimbangkan nilai ujian sekolah. Namun kebijakan itu juga dijadikan peluang oleh sementara pihak untuk menaikkan nilai ujian sekolah. Dengan cara itu maka semua siswa menjadi lulus, sekalipun misalnya hasil ujian nasional yang bersangkutan rendah.

Permainan strategis yang diambil, baik oleh panitia ujian nasional dan oleh pihak sekolah yang bersangkutan menjadikan obyektifitas dan kejujuran pelaksanaan ujian terganggu. Panitia ujian nasional menghendaki agar ujian dilaksanakan dengan sebaik?baiknya, sementara pihak sekolah menginginkan agar tidak ada siswanya yang tidak lulus. Besarnya prosentase lulusan ujian nasional selalu dijadikan tolok ukur kualitas sekolah yang bersangkutan. Selain itu, rendahnya kelulusan ujian nasional menjadikan sekolah yang bersangkutan tidak akan diminati lagi oleh masyarakat. Sekolah yang tidak mendapatkan murid baru, lama kelamaan akan mati. Oleh karena  itu,  mensiasati  agar  prosentase  kelulusan  ujian  nasional  tetap  tinggi  sama  halnya dengan mempertahankan kehidupan sekolah yang bersangkutan.

Pertanyaan yang cukup mendasar selanjutnya adalah, apakah lulus ujian nasional atau lulus sekolah  berarti  mereka  berhasil  memiliki  keahliah  hidup  yang  diperlukan. Artinya  apakah dengan lulus ujian SMA, MA, dan SMK, bagi yang tidak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, telah memiliki pengetahuan dan keahliah yang cukup untuk menghadapi kehidupan di masa depan. Pertanyaan ini dalam tataran empirik tidak mudah dijawab, bahkan oleh lulusan SMK  sekalipun.  Sebab  pada  kenyataannya,  tidak  mudah  mereka  mendapatkan  pekerjaan, kecuali  pada  lapangan  pekerjaan  yang  tidak  memerlukan  ketrampilan  tertentu,  misalnya sebatas sebagai tenaga kasar.

Ujian nasional dan juga ujian sekolah, dan bahkan pelajaran yang diberikian di sekolah pun, ternyata masih lebih banyak bermuatan akademik. Sekolah selama ini belum berhasil memberikan bekal kehidupan yang sebenarnya kepada para siswa. Antara apa yang dipelajari oleh  para  siswa  di  sekolah  dan  apa  yang  mereka  hadapi  di  tengah?tengah  kehidupan masyarakat belum selaras atau sejalan. Dengan demikian, sekolah belum bisa diartikan sepenuhnya telah berhasil membekali para siswa secara tepat. Sekolah sejak dari tingkat dasar hingga menengah, selama tidak kurang dari 12 tahun, belum berhasil menjadikan lulusannya cakap menjalani hidup, baik dalam kehidupan ekonomi, sosial, maupun lainnya.

Di dalam kehidupan pedesaan, tanpa pembelajaran keahliah hidup, anak?anak bisa mendapatkannya dari orang tuanya sendiri. Sepulang dari sekolah, mereka membantu orang tuanya bekerja baik sebagai petani, pedagang, nelayan dan bahkan juga di lingkungan rumah tangga. Anak pedesaan biasanya sejak kecil sudah dilibatkan dalam mengatasi persoalan dan tantangan hidup keluarga sehari?hari. Dengan demikian , setelah lulus sekolah, anak?anak pedesaaan lebih dewasa dan matang dalam menghadapi kehidupan dibanding anak?anak perkotaan. Problem yang tidak mudah dijawab adalah dialami oleh anak desa yang bersekolah ke kota. Lulus dari sekolah di kota, dan tidak adaptif lagi dengan kehidupan pedesaan, akan mengalami kebingungan.

Ke depan kiranya perlu dipikirkan agar antara keahliah menjawab ujian nasional dan kecakapan hidup sehari?hari menjadi selaras. Para siswa yang dinyatakan lulus ujian nasional dan ujian sekolah benar?benar telah mampu beradaptasi, baik dalam kehidupan ekonomi, sosial dan lain? lain di tengah?tengah masyarakat. Hal itu penting agar sekolah benar?benar menjadi solusi terhadap persoalan dan beban masyarakat, dan bukan justru sebaliknya. Hal demikian itu menjadi semakin penting, apalagi budaya desa keterlibatan anak dalam kehidupan sehari?hari, semakin menghilang. Sekolah ke depan, hendaknya benar?benar menjadi institusi yang mampu membekali dua keahliah sekaligus, yaitu keahliah menjawab soal ujian dan keahliah dalam menjalani kehidupan nyata di tengah?tengah masyarakat. Tentu tuntutan itu tidak mudah dijawab dan akan terlaksana manakala pendidikan tidak terlalu bersifat formal. Lagi pula, seharusnya pihak sekolah diberi peluang untuk berkreasi seluas?luasnya untuk menjawab persoalan yang tidak mudah dijawab tersebut. Wallahu a’lam.

Sumber : -
Penulis : AD
Editor : Syech
Dibaca : 218 kali