Sabtu, 17 November 2018

MESJID DAN ANAK – ANAK KITA

  • Jum'at, 19 Agustus 2016 09:46 WIB

Penulis : Ismail Amin

Mahasiswa UNM Makassar, lanjut studi di Mostafa International University Islamic Republic Iran

 

Bagi yang pernah ke Iran, tinggal dalam waktu yang lama atau sekedar berziarah dan berkunjung dalam waktu yang singkat, dan menyempatkan diri untuk turut shalat berjama'ah di masjid-masjid besarnya, niscaya tidak akan luput dari fenomena,  banyaknya  anak-anak  balita  dan  yang  belum  baligh  yang  turut terselip diantara jam'ah yang jumlahnya untuk mesjid besar sampai ribuan orang. Ke Masjid atau berziarah ke Haram (areal pemakaman wali-wali Allah) menjadi agenda rutinitas masyarakat muslim di Iran, mereka seringkali membawa seluruh anggota keluarga untuk shalat berjama'ah atau berziarah ke makam-makam suci yang mereka agungkan. Di saat-saat menunggu waktu masuknya shalat, anak- anak dengan mudah kita temui berkeliaran, di dalam masjid bukan hanya di halamannya, berkejaran, atau sekedar berteriak-teriak yang bagi kita tidak jelas maknanya. Bahkan aktivitas mereka tidak terhenti meskipun jama'ah telah berderet rapi dalam shaf, mereka tetap saja berkeliaran diantara jama'ah yang sedang sibuk dengan gerak-gerak shalatnya, meskipun karena sempat 'dipaksa' untuk berdiri di samping orangtua masing-masing, mereka hanya antusias mengikuti gerak shalat orangtuanya di awal-awal gerakan, setelah itu, mereka lebih  memilih  untuk  melakukan  gerakan  kreativitas  sendiri  yang  terkadang sangat menggelikan.

Saya terkadang bertanya-tanya, apa motivasi orang-orang Iran membawa anak- anak mereka ke masjid, yang bahkan masih dalam usia mingguan?. Apakah mereka tidak terganggu dengan tingkah lucu anak-anak kecil yang terkadang sampai diluar batas kewajaran sehingga sangat mengganggu dan menyebalkan?. Apa mereka tidak khawatir tangisan ataupun teriakan gembira anak-anak kecil mengganggu kekhusyukan peribadatan mereka?. Bukankah mesjid merupakan tempat yang sakral dan membebaskan anak-anak bermain di dalamnya dapat mengurangi kesakralan mesjid dan dapat dikategorikan tindakan tidak menghormati masjid?. Entahlah, yang pasti saya sempat shalat, diantara mereka yang membawa anak-anak kecil usia 2-3 tahunan, sewaktu dalam posisi berdiri untuk shalat, 2-3 anak berkumpul di depanku, di atas sajadah yang aku berdiri diatasnya,  mereka  memandangiku  bersama-sama.  Mungkin  merasa aneh dengan wajahku yang asing dengan orang-orang sekitar yang mereka lihat. Shalatku yang memang sulit khusyuknya menjadi lebih sulit lagi, belum lagi sewaktu mau rukuk, saya sempat memandangi wajah mereka sambil membelalakkan mata sebagai isyarat mereka  menjauh dari  tempat  sujudku, mereka justu tertawa cekikikan bersama. Saya hanya mampu menghalaunya dengan tangan, ketika mereka tetap tidak mau bergeser. Bagaimanapun saya merasa benar-benar terganggu dengan kehadiran anak-anak kecil itu. Untuk shalat-shalat selanjutnya setiap ke masjid, saya memilih shaf yang tidak ada anak kecil terselip di situ.

Keherananku atas kebiasaan mereka, sedikit terjawab setelah menemukan beberapa riwayat dari Nabi SAW yang akan saya jabarkan satu-satu. Imam Bukhari memuliskan dalam kitab shahihnya, pernah Rasulullah menggendong cucunya, Umamah putri Zainab. Padahal ketika itu beliau sedang shalat.

Abu Qatadah berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah saw, sedangkan Umamah binti Abi Al-Ash  berada di  atas bahu  Rasulullah (digendong). Lalu beliau shalat. Ketika beliau rukuk, maka Umamah diletakkan, dan ketika beliau bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat kembali." (HR. Bukhari). Saya tertegun         ketika       membaca           riwayat                       ini.    Betapa             agungnya  Islam         dalam pembentukan nilai-nilai tauhid dan religiusitas bagi anak-anak sejak dini. Shalat yang           merupakan  ritual          ibadah ubudiyah            yang            paling sakral              yang menghubungkan antara manusia dengan sang Khalik, namun tetap tidak mengabaikan suasana hati anak-anak kecil, mereka tetap harus digembirakan dengan tetap menggendongnya hatta dalam keadaan shalat sekalipun. Betapa dekatnya Nabi SAW dengan anak-anak kecil sampai Nabi dalam keadaan shalatpun  tetap  mengizinkan  cucu-cucu  kesayangannya Hasan  dan  Husain, untuk menunggangi punggungnya ketika beliau sedang sujud, dan dalam keadaan memimpin jama'ah shalat.  Abdullah  bin  Zubair  berkata,  "Aku  ingin bercerita kepada kalian tentang orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dan paling beliau cintai, yaitu Al-Hasan bin Ali. Suatu hari aku melihat Rasulullah SAW sedang bersujud, tiba-tiba Al-Hasan datang dan menaiki leher atau punggung beliau. Rasulullah SAW tidak menurunkannya. Beliau menunggu sampai cucu kesayangannya itulah yang turun dari punggung beliau. Aku juga pernah melihat Rasulullah SAW sedang ruku' lalu Al-Hasan dating dan keluar- masuk di antara dua kaki beliau."

Betapa agungnya akhlak Nabi dan betapa jauhnya kita dari petunjuk beliau. Karena sulit khusyuk, kita halau anak-anak kita dari masjid dan tempat kita shalat. Kita larang mereka masuk masjid karena tidak mau terganggu tangis dan teriakan gembira mereka. Kita hardik dan ancam mereka jika tetap berlarian kesana kemari di dalam masjid. Kita marah dan geram dengan gerakan-gerakan lucu dan jenaka mereka yang mengikuti gerakan shalat kita, kita anggap itu penghinaan    terhadap                         kesakralan                       shalat.    Dan    kita    mendongkol,    karena ketidakpahaman mereka, bahwa mengikuti bacaan imam cukup dengan lipsinch, tidak harus turut bersuara apalagi sampai terdengar keseantero masjid.

Kita mungkin pura-pura lupa, bahwa Nabi SAW memendekkan shalatnya ketika memimpin  shalat  berjama'ah  bukan  karena  terganggu  oleh  terdengarnya tangisan bayi, namun karena khawatir dengan kerisauan ibu sang anak. Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW berkata, "Aku betul-betul ingin shalat berlama-lama. Tetapi aku kemudian mendengar tangisan seorang bayi. Maka aku segerakan shalatku karena aku tahu ibunya sedih mendengar tangis bayinya". (HR. Bukhari-Muslim). Nabi SAW memilih memendekkan shalatnya, bukan  karena  terganggu  tangisan  bayi  dan  tidak  pula  melarang  ibu-ibu membawa anak-anaknya ke masjid di waktu-waktu shalat berikutnya, namun lebih karena paham akan kerisauan hati sang ibu akan tangis anaknya.

Walhasil, Nabi SAW seolah memesankan, jangan buat anak-anak kita trauma dengan shalat dan jauh dari masjid karena hardikan kita untuk menenangkan kelakuan mereka. Teriakan, tangis dan keributan yang diperbuat anak-anak dalam masjid masih jauh lebih baik dibanding jauhnya hati-hati mereka dengan masjid. Nabi SAW adalah sebaik-baik contoh dalam hal ini dan sayangnya, saya melihat realitas praktiknya di masjid-masjid Iran bukan kebanyakan di masjid- masjid di tanah air, apalagi di Haramain, Makah dan Madinah (lewat video-video shalat yang kita lihat dengan bacaan shalat yang super panjang dan lama). Jika berkesempatan,  kunjungilah  Iran,  shalatlah  di  masjid-masjid  besar  mereka. Kalian akan menemukan tiga fenomena, banyaknya anak-anak kecil yang berlarian   kesana   kemari,   keriuhan   tangis   dan   teriakan   anak   kecil   yang mengalahkan suara imam, dan  imam shalat dengan  bacaan surahnya yang super pendek.

Wallahu 'alam bishshawwab

Sumber : -
Penulis : AD
Editor : Syech
Dibaca : 259 kali