Kamis, 19 September 2019

PERILAKU BOROS PEMERINTAH DALAM ANGGARAN

  • Kamis, 18 Agustus 2016 13:44 WIB

Oleh : Moh. Safrudin, S.Ag, M.PdI

(Aktivis Gerakan Pemuda Ansor sultra dan Peneliti Sangia Institute)

 

Kini kita sudah memasuki bulan Desember di penghujung tahun 2011, masanya  penghabisan  anggaran  sebelum  masuk  anggraran  baru  tahun 2012,   hampir   semua instansi   lagi   gencar-gencarnya  menyelesaikan program kerja, plus menghabiskan anggaran yang tersisa.

Sudah  beberapa  hari  saya  mundar-mandir  diinstansi  tempat  saya  bekerja  untuk  mencari seseorang yang menduduki jabatan, belum bisa bertemu, ketika saya datang keruangannya, ruangannya kosong, lagi ke Jakarta kata salah seorang stafnya, kemudian saya datang lagi seminggu kemudian saya juga tidak menjumpainya diruannganya, katanya lagi di Makassar pelatihan untuk membahas anggaran tahun 2012. Akhirnya saya kembali ke tempat saya bekerja tanpa kejelasan yang pasti kapan bisa bertemu.

Selain korupsi, sebenarnya ada lagi kegiatan yang merugikan uang rakyat, yaitu perilaku boros. Perilaku bulan tersebut tidak sedikit dilakukan oleh para pejabat birokrasi dengan berbagai alasan. Mungkin bisa jadi, kerugian itu justru lebih besar dibanding dengan uang yang dikorupsi itu sendiri. Kalau perilaku boros itu tidak dihentikan, maka birokrasi pemerintah menjadi mahal, dan ujung-ujungnya adalah rakyat dan negara yang dirugikan.

Perilaku boros tentu sangat sulit diberantas, sebab tidak ada peraturan atau undang-undang yang dilanggar.  Sebuah  keputusan  seolah-olah  betul, akan  tetapi kalau  dilihat secara  seksama, sebenarnya mengakibatkan  pembengkakan  dan  pemborosan  biaya kegiatan  yang  luar  biasa. Sebagai contoh sederhana, tugas dinas yang semestinya bisa dikerjakan di kantor, dialihkan ke hotel mewah dan jaraknya cukup jauh.

Selama ini tidak sedikit kegiatan dinas dilakukan di luar kantor. Padahal masing-masing instansi pemerintah telah memiliki kantor, ruang rapat, ruang kerja, dan bahkan juga tempat pertemuan dengan  berbagai fasilitasnya. Akan  tetapi  tidak  jarang,  pekerjaan dilakukan di  ruang-ruang pertemuan yang disediakan oleh hotel. Tidak tanggung-tanggung, hotel yang disewa kadang sedemikian  mahal  dan  berjarak  sangat  jauh  dari  kantor  pemerintah  yang  bersangkutan. Keputusan itu biasanya didasarkan atas alasan yang seolah-olah logis, misalnya agar kerjanya lebih konsentrasi.

Demikian juga, rapat-rapat dinas dilakukan di hotel-hotel mewah yang berada tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat rekreasi. Mereka rapat dinas dan sekaligus rekreasi. Kita lihat saja di semua daerah, pada saat-saat tertentu, biasanya pada akhir tahun anggaran, hotel-hotel penuh digunakan oleh para pejabat pemerintah untuk rapat, seminar,wokrshop, dan lain-lain. Kegiatan semacam itu belum disebut menyimpang dan apalagi sebagai tindakan korup, walaupun sebenarnya dengan cara itu biaya birokrasi menjadi boros.

Pemborosan seperti itu tidak bisa dipersalahkan jika cara melihatnya hanya dari kalkulasi akal semata. Aturan atau ketentuan tidak ada yang dilanggar. Kesalahan dari keputusan itu hanya bisa dilihat melalui kaca mata hati yang jernih, dan bukan dari undang-undang atau aturan yang ada. Hanya  hati  yang  akan  bisa  mengkalkulasi secara  obyektif dan  benar  terhadap sebuah kegiatan. Bagi orang yang menghendaki keuntungan pribadi, yaitu bekerja sambil berekreasi, atau juga disebut berekreasi sambil bekerja, maka akan mengambil keputusan sesuai dengan niatnya, ialah yang menguntungkan dirinya.

Islam memberikan tuntunan bahwa sesuatu tindakan seharusnya dilihat secara utuh, yaitu dari aspek niat maupun bentuk fisik tindakannya itu sendiri. Menentukan tempat rapat dinas di hotel mahal dan jauh tempatnya, secara fisik menurut peraturan adalah betul. Akan tetapi secara nurani bisa jadi salah, karena sebenarnya hal itu merupakan bentuk pemborosan uang negara. Oleh karena itu, niat seseorang menjadi sangat penting, dan bahkan justru yang menentukan.

Di sisi lain bahwa islam mengecam perilaku boros dalam berbagai hal termasuk anggaran, bahkan dalam Alqur’an dikatakan janganlah kamu berlaku mubazir (boros) sesungguhnya orang yang mubazir(boros) adalah temannya Setan. Dan setan yang nyata-nyata kafir terhadap Tuhannya.

Pemberantasan korupsi tampaknya belum sampai pada tingkat yang lebih dalam itu. Ukuran korupsi  baru  sampai  pada  bukti-bukti  fisik. Tindakan  akal-akalan  yang sebenarnya  juga merugikan uang negara, belum dipandang sebagai tindakan salah. Suatu tindakan disebut korup hanya berdasar pada bukti-bukti yang bersifat fisik. Perilaku boros yang dilakukan oleh para pejabat birokrasi pemerintah sebagaimana contoh-contoh di muka,  selama ini belum dianggap korupsi. Jika hal itu dihitung, maka jumlah koruptor, di negeri ini sebenarnya semakin banyak lagi. Wallahu a’lam

Sumber : -
Penulis : AD
Editor : Syech
Dibaca : 309 kali