Rabu, 14 September 2011, 11:00 –
Hindari Konflik Horizontal di Kendari Kota Bertaqwa

(Humas Kemenag Sultra) ——- Selain dikenal dengan julukan kota lulo, Kota Kendari juga memiliki slogan sebagai kota bertaqwa. Dalam konteks kota bertaqwa itu (menurut para tokoh masyarakat, pemerintah daerah setempat dan elemen lainnya), Kendari diharapkan terilhami dengan nuansa ketaqwaan kepada Allah SWT yang salah satu cirinya adalah kehidupan masyarakat yang aman, damai tentaram, baldatun, toibatun warabun ghofur.

Bila kita menyimak dan mencermati secara mendalam makna dari kota bertaqwa itu, maka yang akan terbayang dibenak kita adalah adanya kehidupan bernuansa Islami di Kota Kendari, dimana masyarakatnya akan hidup rukun dan damai ditengah heterogenitas yang ada. Andai makna bertaqwa betul-betul teraktualisasi dalam kehidupan masyarakat kota lulo, maka segala bentuk konflik, tindak kekerasan, dan ketidakharmonisan hidup bermasyarakat, tidak akan pernah terjadi di Kota Kendari.

Kini, slogan Kendari bertaqwa kian memudar. Kejadian demi kejadian yang mencabik-cabik makna bertaqwa di Kota Kendari kian merajalela. Kasus terbaru adalah tindak kekerasan di dekat kampus Unhalu Anduonohu. Tindak kekerasan tersebut telah menelan korban jiwa dan mengancam warga Kota Kendari ke arah perpecahan. Berbagai isu dan provokasi yang menyesatkan berkembang seiring munculnya kasus tersebut. Bahkan isu SARA kian berhembus seolah mengancam kedamaian warga Kota Kendari yang sangat heterogen.

Padahal bila semua pihak di Kota Kendari berfikir jernih, maka tindak kekerasan dan kriminal seperti tersebut di atas sebetulnya tak perlu terjadi dan tidak boleh terjadi karena keadaan itu bertentangan dengan visi Kota Kendari sebagai kota bertaqwa. Dalam kota bertaqwa, perbedaan merupakan rahmat. Keanaekaragaman merupakan modal dalam memajukan Kota Kendari.

Perbedaan suku, warna kulit dan lain-lain merupakan ketentuan Allah SWT karena dalam Al Quran Allah SWT telah menegaskan bahwa manusia itu diciptakan dalam bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling kenal mengenal antara satu dengan yang lainnya. Jadi perbedaan suku itu bukan untuk perpecahan tapi untuk membina keakraban dan perdamaian dalam menjalani kehidupan dunia ini.

Setiap orang yang menghuni Kota Kendari sudah pasti tidak menginginkan kota ini tidak aman. Untuk itu, mari kita jaga bersama kedamaian kota lulo ini. Mari kita waspadai provokator dan penyebar isu menyesatkan. Kita harus belajar dari berbagai konflik yang pernah terjadi dibeberapa daerah di negeri ini. Semua konflik tersebut berujung dengan derita, deraian air mata dan penyesalan.

Memperhatikan berbagai penyebab konflik kekerasan yang terjadi di Indonesia, ada banyak persoalan serius yang harus dicermati oleh seluruh elemen masyarakat di Kota Kendari sehingga kemajemukan masyarakat di kota lulo tidak berada dalam bayang-bayang konflik kekerasan yang terus mengintai.

Penyebab utama munculnya konflik SARA di Indonesia yang harus kita waspadai di Kota Kendari adalah terkait konflik sosial dari segi agama, etnis, suku, dan kelas sosial. Ada beberapa faktor pendorong/penyebab terjadinya konflik berwatak kekerasan yaitu pertikaian antarpribadi, pertikaian antar preman, orang ketiga yang lazim disebut provokator, penegakan hukum yang lemah, komunikasi yang lemah, dan proyek otonomi daerah (putra daerah).

Pertikaian antar pribadi dan pertikaian antar preman adalah yang paling sering dan banyak terjadi, tetapi dengan gampang terseret pada isu SARA sehingga menimbulkan korban yang demikian hebat. Pertikaian-pertikaian tersebut terkait dengan identitas, sehingga memunculkan problem identitas kelompok (kesukubangsaan). Kasus Ambon, Ketapang, Sambas, Sanggauledo, dan Pontianak adalah contohnya yang paling terang-benderang. Dalam hal ini, provokator adalah idiom yang paling sering muncul tatkala konflik sosial (SARA) terjadi. Sebagai warga kota lulo, kita harus arif dan bijaksana agar tidak membawa perkara pribadi ke isu SARA atau etnis.

Sementara terkait dengan penegakan hukum yang lemah dan komunikasi yang lemah, biasanya kondisi ini sering mendorong masyarakat untuk mengambil tindakan sendiri untuk mengadili kasus-kasus yang mereka hadapi. Untuk menghindari hal ini, maka aparat penegak hukum harus mengusut tuntus dan menghukum setiap pelaku kejahatan di Kota Kendari. Aparat penegak hukum harus menangkap dan menghukum para pelaku tindak kriminal di Kota Kendari agar masyarakat tidak punya niatan untuk main hakim sendiri.

Hal lain yang harus kita wasapadai dalam mencegah konflik horizontal di Kota Kendari adalah terkait dengan adanya semangat kesukuan (nasionalisme etnisitas) yang demikian kuat. Sehingga representasi soal putra daerah yang harus menjadi pejabat, birokrat, pengusaha, dan penguasa, tak jarang menghilangkan peran-peran dari masyarakat lain yang sama-sama hidup dalam satu daerah. Disini pendefinisian tentang putra daerah ditafsirkan secara sempit, sehingga menjadikan konflik antara pendatang dengan mereka yang merasa sebagai penduduk asli.

Karena itu, dalam konteks rumitnya konflik kekerasan SARA, maka Negara/pemerintah daerah sudah seharusnya memberikan ruang yang lebih memadai untuk terjadinya proses dialektika antar kelompok dimasyarakat, sehingga antara satu komunitas dengan komunitas lainnya dapat saling menghargai, memahami, dan bekerja sama. Tanpa ruang yang memadai untuk seluruh elemen masyarakat, yang akan terjadi adalah munculnya kekuatan-kekuatan baru yang akan menumbuhkan konflik kekerasan dimasa yang akan datang.

Negara/pemerintah daerah harus bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Indonesia, khususnya Kota Kendari sebagai Negara/daerah yang damai dan agama menjadi rahmat bagi semua, bukan hanya kelompoknya sendiri. Dengan demikian, resolusi konflik kekerasan berbasis agama harus dikembangkan dari hal-hal yang paling sederhana, kecil, tetapi berkesinambungan. Bukan mengesankan hanya karena proyek Negara/daerah yang akan berakhir dengan bentuk-bentuk formalitas belaka. KEPRESSPenulis : La Ode Muhammad Ramadan (Mahasiswa Program Pascasarjana Unhalu, Kendari)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.662552 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.68
Jumlah pengunjung: 1650062
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.