Sabtu, 30 Maret 2013 – Menag - Wamenag
Wamenag RI: “STQ Menjadi Penyelamat dan Pelestari Nilai Budaya Bangsa”

(Humas Kemenag Sultra) —- Wakil Menteri Agama Republik Indonesia (Wamenag RI), Prof. DR. H. Nasaruddin Umar mengatakan, penyelenggaraan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) diharapkan dapat menjadi faktor dalam menyelamatkan dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa. Hal itu disampaikan Wamenag, saat menyampaikan sambutannya serangkaian Launching STQ Nasional XII di Kantor Kemenag Jl. M.H. Thamrin Jakarta, Rabu (27/3).

Hadir pada acara tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag Bahrul Hayat, Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil, Wakil Gubernur Bangka Belitung Rustam Effendie, Bupati Bangka Tengah Erzaldi Rosman Djohan, sejumlah pejabat eselon I dan II, utusan Pemrov dari seluruh Indonesia, serta para Kakanwil Kemenag Provinsi se Indonesia.

Wamenag menjelaskan, STQ ke- 22 yang akan diselenggarakan di Kab. Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung tanggal 22-29 Agustus 2013 itu menelan dana sekitar Rp.38 miliar. “Jika dilihat besarnya dana, memang cukup besar, tetapi bila dari sisi syiar agama akan banyak manfaat yang diperoleh. Jadi, panitia tak perlu khawatir bahwa STQ tersebut bakal sepi,” ujar Nasaruddin.

STQ sambung Wamenag, diharapkan dapat memberikan makna luas, yaitu pendalaman penghayatan terhadap Al Quran. “Selain dari sisi syiar akan berpengaruh kepada umat Islam, maka tentu pelaksanaannya pun harus dilakukan dengan persiapan matang. Karena itu, STQ di Kabupaten Bangka Tengah diharapkan dapat menghasilkan Qari dan Qari’ah terbaik,” ujarnya.

Wamenag menjelaskan, pada ajang STQ ke- 22 juga akan diselenggarakan sejumlah rangkaian kegiatan, termasuk Seminar Nasional tentang Al-Quran. “Seminar ini penting, karena STQ atau MTQ merupakan syiar dalam pengembangan agama. Terdapat dua dimensi yang harus kita seimbangkan, pertama; dimensi pendalaman penghayatan ajaran dan kedua: dimensi kesemarakan, kedua dimensi ini harus berbanding lurus. Kalau hanya pendalaman penghayatannya saja, maka akan kehilangan syiar, tapi kalau hanya syiar terus, hura-huranya yang menonjol akan kehilangan pendalaman penghayatan maknanya,” jelas Nasaruddin.

Hal lain yang sangat penting untuk diingat di dalam setiap event seperti ini lanjut Nasaruddin, adalah apa kontribusi STQ atau MTQ di dalam pematangan pendalaman dan penghayatan keagamaan warga bangsa dan umat kita di masa depan.

Pada kesempatan itu, Nasaruddin juga mengungkapkan prestasi Indonesia pada sejumlah ivent internasional, mulai dari Tahfidzul Qur’an sampai Musabaqah Tilawatil Quran tingkat internasional. “Yang paling membanggakan dan membahagiakan, Indonesia tidak pernah pulang tanpa membawa piala”, ungkapnya.

Hifdzil dan Qiraatul Quran dari Indonesia sangat disegani dan sangat diperhitungkan. Kabar baru, Indonesia memenangkan juara Satu Hifdzil Qur’an tingkat internasional yang dilaksanakan di Mesir. Dengan sejumlah prestasi internasional yang diperoleh Indonesia dalam MTQ atau Hifdzil Quran ini, pertanda bahwa seni baca Alquran di Indonesia sangat diperhitungkan di luar negeri.

Bahkan yang tidak kalah pentingnya menurut Nasaruddin, semenjak MTQ disosialisasikan dan dimasyarakatkan di Indonesia, selalu ada Qari’ah (pembaca perempuan). “Kalau di Timur Tengah pada umumnya hanya Qari saja, karena masih ada anggapan bahwa suara perempuan itu aurat (Shautul Mar’ati Aurat). MTQ di Indonesia sejak tahun 1970, telah melibatkan perempuan, lalu disusul Turki yang dikenal sebagai negara sekuler, baru melibatkan perempuan sebagai Qari’ah,” terang Nasaruddin.

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.667094 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.64
Jumlah pengunjung: 1602122
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.