Jumat, 29 Maret 2013 – Pendis & Madrasah
Safi’i: “Optimalisasi Peran dan Fungsi Guru BP Sangat Diperlukan”

(Humas Kemenag Sultra) —- Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kendari, Syafi’i, S.Ag., M.Pd menegaskan, untuk mengatasi berbagai faktor penghambat berlangsungnya pembelajaran, seperti tingkat kesulitan belajar siswa, maka optimalisasi peran dan fungsi guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) sangat diperlukan. “Hal tersebut sangat diharapkan dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran yang efektif,” tegas Safi’i, Selasa, (26/3/2103).

Selain faktor tingkat kesulitan belajar siswa, peran dan fungsi guru BP juga sangat diperlukan dalam memberikan perhatian terhadap sikap dan prilaku siswa mengikuti seluruh aktifitas pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas. “Karena itu, pelaksanaan pembelajaran yang kondusif sangat ditentukan oleh seberapa besar usaha dalam mengurangi tingkat kesulitan belajar siswa,” kata Syafi’i.

Menurutnya, tantangan dan hambatan siswa yang menjadi pemicu munculnya kesulitan belajar tersebut diantaranya, karena pengaruh arus informasi melalui berbagai sumber, termasuk didalamnya peran media massa yang kontennya belum tentu cocok untuk menjadi konsumsi siswa pada usia tertentu.

“Termasuk yang menjadi hambatan adalah persoalan ekonomi keluarga peserta didik, pola sikap dan metode pendekatan yang digunakan oleh guru dalam mengungkap setiap persoalan yang dihadapi oleh siswa. Jika kemudian tidak terkoordinir dengan baik, maka akan menjadi pemicu munculnya rasa frustasi dan masa bodoh serta acuh tak acuh siswa dalam mengikuti pembelajaran,” ungkap Safi’i.

Safi’i menjelaskan, guru BP sebagai salah satu komponen tenaga pendidik dalam Satuan Pendidikan diperlukan peran dan fungsinya secara maksimal sesuai dengan amanat dalam Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (6) yang menyebutkan istilah “Konselor” untuk profesi pendidik. “Juga pada Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal yang dikeluarkan Dirjen PMPTK Depdiknas tahun 2007, dijelaskan pendidikan minimal konselor adalah Sarjana (S1) Program studi Bimbingan dan Konseling,” jelasnya.

Selain itu, dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah atau Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (Perundang-Undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).

“Karena itu, peran dan fungsi guru BP sangat urgen dalam pelaksanaan pendidikan secara umum di sekolah/Madrasah,” pungkas Safi’i.

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.071876 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 1490926
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.