UNBK: Membangun Integritas di Era Revolusi Industri 4.0

Rahmad. S.Pd., M.Pd 01-05-2018 (06:37:35) Opini 78 times
(Catatan Penting Jelang Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018)
Oleh : Irwan Samad *

Revolusi industri yang saat ini tengah dihadapi oleh dunia global, (termasuk Indonesia) tampaknya turut berdampak pada kebijakan dan pelayanan terhadap publik. Lembaga pemerintah maupun sektor swasta, hampir seluruhnya menerapkan digitalisasi dan memanfaatkan internet (internet of things) dalam setiap pelayanannya. Sebut misalnya e-goverment, e-filling e billing, e-ktp dan lain sebagainya. Demikian pula dalam sektor swasta, banyak fitur dan produk  yang berbasis aplikasi (android) saat ini bermunculan bak jamur di musim hujan, misalnya transportasi online (ojek dan grab), e-payment, e-ticket dan lain sebagainya. Kesemuanya hadir didedikasikan dalam rangka memberikan pelayanan yang cepat, murah, akurat dan akuntabel.  

Revolusi industri 4,0 (baca: generasi keempat),  sesungguhnya telah menjadikan internet sebagai ruh dan mainstream setiap aspek kehidupan. Tanpa disadari, revolusi industri telah merambat ke dalam tata kelola penyelenggaraan lembaga pendidikan. Hal paling mendasar mengalami perubahan adalah sistem peningkatan mutu pendidikan berbasis online. Untuk itu, lembaga pendidikan (baca sekolah /madrasah) dituntut harus mampu merespon secara cepat perubahan yang terjadi. Sekolah/madrasah harus memiliki rasa kepekaan yang tinggi terhadap segala perubahan yang ada. Karenanya, tak mengherankan jika kemudian terdapat sebagian sekolah/ madrasah sudah mulai menerapkan e learning atau pembelajaran berbasis elektronik. Penjaringan penerimaan peserta didik baru telah dilakukan dengan menggunakan moda/jalur online. Laporan hasil belajar peserta didik dapat diakses secara melalui satu sentuhan diaplikasi. Hal ini membuktikan bahwa zaman milenial seperti saat ini internet telah menjadi bagian penting dan terintegrasi dalam kehidupan masyarakat. 

Demikian pula dalam aspek penilaian juga tak luput dari sentuhan inovasi. Salah satu segmen yang mengalami perubahan signifikan akibat dampak revolusi indistrui 4,0 adalah adalah Ujian Berbasis Komputer atau Computer Based Test (CBT). Sehingga kemudian, sekolah/madrasah tak mampu mengelak lagi dari supremasi arus teknologi dan informasi yang kian melejit.  

Paradigma baru moda penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bagi siswa SMA/MA/SMK dan SMP/MTs adalah salah satu inovasi dan langkah progresif yang patut diapresiasi. Secara grafik, tahun 2018 jumlah sekolah/madrasah penyelenggara UNBK mengalami peningkatan secara signifikan. Berdasarkan data yang diperoleh jumlah Madrasah Aliyah se-Sultra 124 sebanyak 46 (37,09 %) terdiri 15 negeri dan non negeri 31 dengan status 38 mandiri dan 8 lainnya menggabung dengan sekolah lain.

Sementara itu , jumlah Madrasah Tsanawiyah se-Sultra 219 sebanyak 74 (33,78%) terdiri 39 negeri dan non negeri 35 dengan status 58 mandiri dan 16 lainnya bergabung dengan sekolah lain (Sumber : Kemenag.prov. Sultra).

Demikian pula pada Sekolah Menengah Atas sebanyak 404 sekolah se-Sultra, terdapat 176 (43,56%) yang ber UNBK sisanya sebanyak 228 (55,94%) yang menggunakan kertas pensil (detik.com). Hal ini seiring dengan target pemerintah yang menetapkan 100 persen bagi SMA/SMK/MA dan 70 persen untuk jenjang SMP/MTs se Indonesia tahun 2018  ujian nasional sudah berbasis komputer. Khusus bagi  madrasah se-Kota Kendari, baik negeri maupun non negeri, ternyata jauh melampui apa yang menjadi ekpektasi pemerintah dengan penyelanggara UNBK 100 %.

Karenanya, di zaman milenial sekarang ini tampaknya 1-2 tahun mendatang diprediksi kemungkinan besar tidak akan ada lagi sekolah di tanah air ini yang  mengikuti ujian dengan moda konvensional, menggunakan kertas dan pensil. Walaupun demikian, kita tak boleh menutup mata terhadap kondisi yang dihadapi oleh beberapa sekolah/madrasah, utamanya di wilayah terluar, terkait dengan ketersediaan sarana pendukung dan infrastruktur lainnya utamanya komputer, server dan jaringan.   
Oleh karena itu, digitalisasi dalan penyelenggaran Ujian Nasional merupakan fakta sejarah yang tak mungkin dibendung.

Di samping mendukung  program Go Green yang ramah lingkungan (paperless), UNBK juga diyakini mampu menekan potensi tingkat kecurangan, yang mungkin saja bisa terjadi. Meskipun belum ada riset resmi terkait hubungan linearitas antara hasil UNBK dengan tingkat kejujuran, namun setidaknya langkah awal untuk membangun kejujuran, dimulai dari sebuah ikhtiar. 

Kini, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. Semoga Hari Pendidikan Nasional tahun 2018 yang bertajuk “memajukan Pendidikan, menguatkan kebudayaan”  dapat terwujud. Upaya untuk membangun integritas diperlukan sebuah iklim dan instrumen. Nah, UNBK itulah diharapkan integritas dan kejujuran dapat terbangun sebagai budaya bangsa untuk mutu pendidikan yang lebih baik. Wallahu a’llam. 

*Ketua Umum DPD Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Kota Kendari




BIODATA PENULIS

Nama : Irwan Samad, S.PdI. M.Pd
Tempat Tanggal Lahir : Wawotobi, 20 Mei 1977 
Alamat : Jl. Mekar Jaya 1 Kel. Punggolaka Kec. Puuwatu Kota Kendari
Pekerjaan : PNS
Jabatan : Kepala MTs. Asy-Syafiiyah Kendari 
Pendidikan Terakhir : S2 / Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan Islam IAIN Kendari 
Pengalaman Organisasi : Ketua Umum DPD Persatuan Guru Madrasah (PGMI) Kota Kendari periode 2017-2022 
HP : 0813416836778
 

Opini lainnya