PERAN GURU DALAM MEMBANGUN MORAL DAN AKHLAK ANAK

Syech 29-03-2017 (12:59:10) Opini 43 times
Oleh : Takwa, S.Pd., M. Hum
Staf Pengajar pada Universitas Sembilanbelas November Kolaka,
Provinsi Sulawesi Tenggara
Posnel : takwarachman68@gmail.com

Moralitas di kalangan pelajar dewasa ini merupakan salah satu masalah pendidikan yang harus mendapatkan perhatian semua pihak. Berbagai perubahan yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan pelajar mulai dari tata pergaulan, gaya hidup, bahkan hingga pandangan-pandangan yang mendasar tentang standar perilaku merupakan konsekuensi dari perkembangan yang terjadi dalam skala global umat manusia di dunia ini.

Arus globalisasi informasi lintas geografi dan budaya yang semakin deras terjadi saat ini, mau tidak mau menimbulkan dampak tersendiri yang tidak selalu positif bagi kehidupan remaja dan pelajar padahal pada sisi elementer, mereka diharapkan mampu memelihara dan melestarikan tradisi, cara pandang dan aspek-aspek moralitas bangsa Indonesia yang luhur serta keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

Dalam menangkal segala kegiatan remaja atau siswa sudah diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 menerangkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Sebagai upaya untuk mencapai tujuan negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut, lembaga pendidikan khususnya sekolah sebagai lembaga pendidikan berkewajiban untuk menyiapkan manusia-manusia berkualitas baik secara intelektual, integritas maupun peran dalam masyarakat. Untuk keperluan itu sekolah harus membekali dirinya dengan kurikulum yang memadai.

Guru, suatuprofesi yang luar biasa mulia, profesi yang sangat berperan dalam peningkatan sumber daya manusia dan kemajuan suatu bangsa. Orang-orang yang sukses di bidangnya masing-masing tidak mungkin bisa meraih keberhasilanjika tanpa ada guru yang mengajar dan mendidiknya. Melalui gurulah seorang anak mulai diperkenalkan padahuruf dan angka, dari tidak bisa membaca jadi bisa membaca, dari tidak tahu berhitung jadi bisa berhitung. Guru adalah seorang yang mampu menginspirasi dan memotivasi muridnya, sehingga mampu berbuat sesuatu yang baik dengan kemampuannya sendiri. Disinilah pentingnya guru sebagai sumber keteladanan dan kemampuan dalam menumbuhkan motivasi. Dengan demikian peran seorang guru begitu penting dalam mendukung kemajuan suatu bangsa.

Guru sebagai pendidik merupakan gerbang awal dalam membentuk kepribadian siswa. Hal ini mengandung arti bahwa guru memberikan pengaruh yang cukup bermakna bagi terwujudnya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Taala serta berakhlak mulia. Guru merupakan orang yang di tangannya terletak masa depan bangsa.

Pendidikan merupakan salah satu alat untuk dapat membimbing seseorang menjadi orang yang baik terutama pendidikan agama. Dengan pendidikan agama akan membentuk karakterakhlakul karimahbagi siswa sehingga mereka mampu memfilter mana pergaulan yang baik dan mana yang tidak baik. Khususnya terhadap para siswa Sekolah Dasar (SD), pendidikan agama sangat penting sebagai benteng sejak dini dari hal-hal yang tidak baik. Terlebih saat ini, realitas menunjukkan bahwa anak-anak usia dini sudah banyak terlibat dengan perilaku tidak baik, seperti tawuran, perilaku amoral/asusila, narkoba, pornografi dan pornoaksi dan lain-lain.

Pelaksanaan pendidikan moral banyak diemban oleh guru agama. Materi yang diberikan bukan hanya menjadikan manusia yang pintar dan trampil, akan tetapi jauh daripada itu adalah untuk menjadikan manusia yang memiliki moral dan akhlakul karimah. Dengan moral dan akhlakul karimah yang dimilikinya akan mampu mengarahkan minatnya untuk terus belajar mencari ilmu.

Para ahli pendidik Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik tetapi maksudnya adalah mendidik akhlak dan jiwa mereka, dengan kesopanan yang tinggi, rasafadilah(keutamaan), mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang seluruhnya ikhlas dan jujur.

Pada akhirnya tujuan pendidikan Islam itu tidak terlepas dari tujuan nasional yang menciptakan manusia Indonesia seutuhnya, seimbang kehidupan duniawi dan ukhrawi. Dalam Al-Quran sudah terang dikatakan bahwa manusia itu diciptakan untuk mengabdi kepada Sang Khaliq. Pendidikan agama yang menyajikan kerangka moral sehingga seseorang dapat dapat membandingkan tingkah lakunya. Pendidikan agama yang terarah dapat menstabilkan dan menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini. Pendidikan agama menawarkan perlindungan dan rasa aman, khususnya bagi para siswa dalam menghadapi lingkungannya (Abuddin, 2007).

Agama merupakan salah satu faktor pengendalian terhadap tingkah laku anak-anak didik hari ini. Hal ini dapat dimengerti karena agama mewarnai kehidupan masyarakat setiap hari.

Bangsa Indonesia terkenal di kancah Internasional dengan keramahan dan etikanya. Oleh karenanya keramahtamahan dari bangsa Indonesia ini harus tetap kita jaga, kita pertahankan dan kita kembangkan.

Moral dan akhlaq adalah suatu yang amat penting, karena dari moral dan akhlaq inilah manusia berbeda dengan hewan. Akan tetapi bahasan akhlaq dan moral anak didik serta etika masyarakat masih belum serius dicari solusi dan pelaksanaannya.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa pembinaan dan bimbingan melalui pendidikan agama sangat besar pengaruhnya bagi para siswa sebagai alat pengontrol dari segala bentuk sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari, artinya nilai-nilai agama yang diperolehnya menjadi bagian dari pribadinya yang dapat mengatur segala tindak tanduknya secara otomatis.

Kaitannya dengan meminimalisir kemunduran moral sangat besar sekali. Pendidikan agama mengarahkan kepada setiap siswa untuk komitmen terhadap ajaran agamanya. Tidak terbuai dengan lingkungan yang tidak baik. Tidak berprilaku buruk dalam setiap aktivitasnya. Pendek kata, dengan pendidikan agama prilaku siswa dapat diarahkan.

Masyarakat harus segera disadarkan bahwa ancaman global khususnya kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi kalau tidak dibarengi dengan benteng ilmu agama akan berakibat fatal terhadap lajunya prilaku dekadensi moral. Rendahnya kemampuan memfilter mana yang baik dan mana yang tidak baik inilah yang akan memunculkan berbagai tindakan penyimpangan anak-anak didik.

Bila ditarik titik permasalahan yang signifikan terhadap munculnya penurunan moral anak-anak hari ini adalah tidak maksimalnya pendidikan agama diajarkan kepada para siswa khususnya sejak usia di Sekolah Dasar (SD). Muatan pelajaran agama di Sekolah Dasar (SD) sangat minim untuk menjadi bekal mereka menghadapi kacau dan semrawutnya hiruk pikuk dunia ini.

Apalagi tenaga pengajar agama hanya mampu mengajar namun sedikit semangat dalam mendidik. Dalam artian, pemberian pendidikan agama hanya berbentuk kajian teoritis namun tidak diupayakan dalam bentuk praktis. Apa yang dilakukan para siswa di luar sekolah ini tidak menjadi perhatian para pendidik agama.

Dengan demikian, upaya praktis dalam mewujudkan nilai-nilai moral yang islami lewat pendidikan agama harus senantiasa diupayakan agar penanaman pendidikan agama betul-betul maksimal.

Sehingga para siswa mampu untuk mengantisipasi pengaruh buruk dari lingkungan yang ada di sekitar mereka. Saat ini, kita sangat prihatin melihat dekadensi moral yang melanda usia anak-anak. Suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar bahwa pembekalan ilmu agama sejak dini harus dilakukan semaksimal mungkin. Catatan khusus bagi anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) yang merupakan dasar perpijakan menuju tangga yang lebih tinggi harus punya ilmu agama yang sangat memadai.

Intinya, pembekalan sejak dini ilmu agama terhadap anak-anak sangat signifikan. Pendidikan agama mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam meminimalisir dekadensi moral anak-anak hari ini. Besarnya tarikan pengaruh yang tidak baik dari lingkungan harus diimbangi dengan besarnya pendidikan agama kepada para peserta didik. Bila dampak pergaulan yang tidak baik tidak dicegah sedini mungkin maka akibatnya akan semakin bobroklah kualitas moral dan kualitas kelilmuan anak-anak ke depan.

PEMBINAAN DAN KETERKAITAN NILAI IMTAQ

Pembinaan iman dan tagwa (imtaq) merupakan inti tujuan pendidikan nasional. Hal ini berarti bahwa pembinaan imtaq bukan hanya tugas dari bidang kajian atau bidang kajian tertentu secara terpisah, melainkan tugas pendidikan secara keseluruhan sebagai suatu sistem. Artinya, sistem pendidikan nasional dan seluruh upaya pendidikan sebagai suatu sistem yang terpadu harus secara sistematis diarahkan untuk menghasilkan manusia yang utuh, yang ciri pokoknya ialah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadaap Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam prespektif yang sempit, pembinaan imtaq siswa di sekolah dianggap merupakan tugas guru Pendidikan Agama Islam. Mempercayakan pembinaan imtaq siswa hanya kepada satu atau beberapa mata pelajaran saja mengandung kelemahan, baik ditinjau dari segi hakikat pendidikan nasional sebagai suatu sistem maupun hakikat proses pendidikan yang seharusnya mampu mengembangkan semua dimensi kepribadian peserta didik secara utuh.

Tantangan yang paling besar muncul dari globalisasi yang membawa serta perubahan sosial dan persepsi masyarakat terhadap nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi, nilai-nilai keagamaan. Dilihat dari segi positifnya, perkembangan tersebut justru merupakan tantangan bagi lebih diperkuatnya kualitas imtaq siswa guna mengurangi dampak negatif globalisasi. Oleh sebab itu perlu penataan pengintegrasian nilai-nilai imtaq ke dalam cakupan isi materi pembelajaran yang selanjutnya diwujudkan dalam proses pembelajaran, sehingga terjadi proses internalisasi dan personalisasi bersamaan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) No 22 Tahun 2006, kerangka dasar dan struktur kurikulum dinyatakan bahwa kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Berkaitan dengan pilar belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa mengandung makna bahwa pilar tersebut bukan hanya dimiliki oleh kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia saja melainkan juga menjadi materi pembelajaraan bagi mata pelajaran lainnya. Apalagi mata pelajaran yang mempunyai relevansi isi materi dengan nilai-nilai imtaq seperti Pendidikan Kewarganegaraan. Pilar yang dimaksud adalah pilar belajar, yang secara langsung akan menyentuh peserta dididik dalam proses pembelajaran sehingga merupakan keharusan untuk menanamkan nilai-nilai imtaq di dalam setiap proses pembelajaran.

Mengutip pendapat Arief Rahman (2005), mengatakan bahwa dunia pendidikan di Indonesia sudah luntur memberikan budi pekerti. Tidak heran jika hasil pendidikan yang mengejar nilai menghasilkan generasi yang kurang peka terhadap lingkungan. Akibatnya banyak lembaga pendidikan menghasilkan kekerasan alias premanisme di lingkungan sekolah.

Pada saat ini banyak keluhan yang disampaikan orang tua, para guru dan orang yang bergerak di bidang sosial mengeluhkan tentang perilaku sebagian remaja atau generasi muda kita yang amat mengkhawatirkan.

Ekses negatif akibat kemajuan teknologi dirasakan oleh banyak pihak meningkat secara tajam, dan bahaya yang menghadang dewasa ini adalah merosotnya nilai moral. Dengan demikian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa disertai bekal iman dan taqwa dapat menyebabkan penguasaan iptek ke arah yang kurang seimbang. Oleh karenanya, masalah Imtaq menjadi tanggung jawab bersama, terutama para pendidik untuk mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya berbekal ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga berbekal keimanan dan ketaqwaan. Iptek dalam hal ini dikuasai untuk meningkatkan keterampilan dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya, sedangkan Imtaq untuk meningkatkan nilai moral dan kebijaksanaan.

Menyikapi uraian di atas, para pendidik hendaknya membekali diri tidak hanya penguasaan materi, tetapi juga wawasan keimanan dan ketaqwaan (imtaq), sehingga dapat mengintegrasikan wawasan imtaq ke dalam pembelajaran iptek, pada semua mata pelajaran, dengan harapan amanat mempersiapkan siswa untuk menjadi masyarakat yang menguasai sains dan teknologi serta berakhlak mulia dapat terwujud.


PERAN GURU

Guru adalah pengembang kurikulum yang berada dalam kedudukan yang menentukan dan strategis. Jika kurikulum diibaratkan sebagai rambu-rambu lalu lintas, maka guru adalah pejalan kakinya, dengan asumsi bahwa gurulah yang paling tahu mengenai tingkat perkembangan peserta didik, perbedaan siswa, daya serap, suasana dalam kegiatan pembelajaran, serta sarana dan sumber yang tersedia.

Bahwa pembinaan akhlak terhadap para remaja atau generasi muda amat penting dilakukan, mengingat secara psikologis usia remaja adalah usia yang berada dalam goncangan dan mudah terpengaruh sebagai akibat dari keadaan dirinya dan masih belum memiliki bekal pengetahuan, mental dan pengalaman yang cukup. Akibat dari keadaan yang demikian, para remaja mudah sekali terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang menghancurkan masa depannya.

Sejalan dengan faktor tersebut, maka pendidikan akhlak bagi para remaja atau generasi kita amat urgen untuk dilakukan dan tidak dapat dipandang ringan. Dengan terbinanya akhlak para remaja ini berarti kita telah memberikan sumbangan yang besar bagi penyiapan masa depan bangsa yang lebih baik. Sebaliknya jika kita membiarkan para remaja terjerumus ke dalam perbuatan yang tersesat, berarti kita telah membiarkan bangsa dan negara ini terjerumus ke jurang kehancuran.

Pendidikan Akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral (akhlak) dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa hingga ia menjadi mukallafyang mengarungi lautan kehidupan. Pengajaran akhlak di sekolah-sekolahpadasaatini belum diberikan secara mandiri, dalam artimasih terintegrasidenganmatapelajaranAgamaataupun pendidikan pancasila, namun pada umumnya para pendidik jarang sekalimenyentuhmengenaipendidikanakhlak.Karena pendidikan akhlak dianggap sebagai pemberian ceramah-ceramah saja.Usia Sekolah Dasar adalah masa yang sangat menentukan untuk masadepannya dan pendidikan akhlak sangat dibutuhkan. Dalam hal iniharusada pendidikan akhlak yang mampu memadukan antara pendidikansekolahkeluarga, dan lingkungan secara kontinyu, dengan mengkomunikasikan perkembangan anak kepada pihak sekolah atas apayangmenjadikebiasaananak dirumah dandi lingkungan agar terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan guru untuk perbaikan pendidikan khususnya akhlak anak.

Pendidikan dianggap tidak berkualitas, pendidikan telah diangggap gagal? Kegagalan tersebut tercermin dari banyaknya perbuatan mungkar, asusila dalam kehidupan masyarakat. Keadaan ini memunculkan anggapan bahwa pendidikan tidak berkualitas dan gagal. Apakah angapan tersebut beralasan? Karena kegagalan pendidikan tidak hanya diukur dari sikap moral di masyarakat saja.

Apakah pendidikan tidak bermutu sehingga menghasilkan anak didik bermoral rendah, berakhlak rendah? Apakah pendidikan tidak mampu menampung dan mengakomodasi keinginan dan potensi, bakat dan kemampuan siswa? Apakah proses pembelajaran sudah memberi ruang dan waktu bagi berkembangannya bermacam potensi dan bakat siswa? Kalau siswa telah mendapatkan haknya untuk mengembangkan diri dan potensinya maka pendidikan telah memberi makna kepada siswa.

Jamaluddin, ( 2005) mengatakan agar pembelajaran bermakna dan berpotensi mengembangkan bakat siswa paling tidak harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut; Perkembangan anak didik, kemandirian anak., vitalisasi model hubungan demokratis, vitalisasi jiwa aksploratif, kebebasan, menghidupkan pengalaman anak, keseimbangan pengembangan aspek personal dan social, Kecerdasan emosional dan spiritual.

Pendidikan hendaknya memperhatikan perkembangan anak didik, baik dari segi kurikulumnya, metode dan materi ajarnya, perhatian terhadap aspek perkembangan anak didik perlu diperhatikan agar terjadi umpan balik yang seimbang, umpan balik yang dimaksud adalah adanya respon yang positif dari anak didik terhadap pendidikan yang sedang diukutinya, di sisi lain, anak didik akan terhindar dari pengabaian pendidikan. Bakat, potensi dan minatnya akan tersalurkan jika pendidikan memperhatikan aspek perkembangan anak didik. Guru akan mudah mengajar dan memberikan materi dengan metode tepat.

Pendidikan hendaknya mengembangkan aspek pribadi dengan tidak mengabaikan aspek sosial, lebih dari itu pendidikan hendaknya mengembangkan aspek emosi dan religi anak. Agama adalah sumber ajaran akhlak mulia, dengan pemahaman agama kuat diharapkan anak mempunyai referensi cukup untuk mengembangkan kepribadiannya.

Mengembangkan kepribadian mengacu kepada mendidik akhlak. Dalam mendidik akhlak perlu sebuah sistem ataupun metode tepat agar proses internalisasi dapat berjalan dengan baik, lebih penting adalah anak mampu menerima konsep akhlak dengan baik serta mampu mewujudkan dalam kehidupan keseharian.

Tulisan ini berusaha menitikfokuskan kepada metode-metode yang mungkin dapat digunakan dalam mendidik akhlak anak. Ada titik fokus terhadap metode pendidikan tertentu dan tepat sesuai dengan materi dan anak didik anak tingkat keberhasilannya lebih besar. Meskipun selama ini anak telah mendapatkan materi tentang akhlak di sekolah, di rumah dan tempat pengajian, tetapi kenapa anak masih berperilaku melanggar norma adat dan agama? Bukankah mereka sudah mendapatkan pendidikan akhlak di sekolah?


SEKILAS TENTANG AKHLAK

Akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu alkhulqu, al-khuluq yang mempunyai arti watak, tabiat, keberanian, atau agama. Secara Istilah akhlak menurut Ibnu Maskawaih (421 H) adalah :

Suatu keadaan bagi jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui pikiran dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.

Indikasi bahwa akhlak dapat dipelajari dengan metode pembiasaan, meskipun pada awalnya anak didik menolak atau terpaksa melakukan suatu perbuatan/ akhlak yang baik, tetapi setelah lama dipraktekkan, secara terus-menerus dibiasakan akhirnya anak mendapatkan akhlak mulia.

Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin sebagaimana dikutip Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari memberikan definisi akhlak sebagaisuatu ungkapan tentang keadaan pada jiwa bagian dalam yang melahirkan macam-macam tindakan dengan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan terlebih dahulu.

Dari dua defenisi di atas dapat dipahami bahwa akhlak bersumber dari dalam diri anak dan dapat juga berasal dari lingkungannya. Secara umum akhlak bersumber dari dua hal tersebut dapat berbentuk akhlak baik dan akhlak buruk, tergantung pembiasaannya, kalau anak membiasakan perilaku buruk, maka akan menjadi akhlak buruk bagi dirinya, sebaliknya anak membiasakan perbuatan baik, maka akan menjadi akhlak baik bagi dirinya.

Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa akhlak dapat dipelajari dan diinternalisasikan dalam diri seseorang melalui pendidikan, dii antaranya dengan metode pembiasaan. Dengan adanya kemungkinan diinternalisasikan nilai-nilai akhlak ke diri anak, memungkinkan pendidik melakukan pembinaan akhlak.

SIMPULAN

Pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral (akhlak) dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa hingga ia menjadi mukallafyang mengarungi lautan kehidupan.
Pengajaran akhlak di sekolah-sekolahpadasaatini belum diberikansecaramandiri, dalam arti masih terintegrasi dengan mata pelajaran agama ataupun pendidikan Pancasila, namun pada umumnya para pendidik jarang sekali menyentuh mengenai pendidikan akhlak. Karena pendidikan akhlak dianggap sebagai pemberian ceramah-ceramah saja. Usia sekolah dasar adalah masa yang sangat menentukan untuk masa depannya dan pendidikan akhlak sangat dibutuhkan.
Pendidikan hendaknya memperhatikan perkembangan anak didik, baik dari segi kurikulumnya, metode dan materi ajarnya, perhatian terhadap aspek perkembangan anak didik perlu diperhatikan agar terjadi umpan balik yang seimbang, umpan balik yang dimaksud adalah adanya respon yang positif dari anak didik terhadap pendidikan yang sedang diukutinya, di sisi lain, anak didik akan terhindar dari pengabaian pendidikan. Bakat, potensi dan minatnya akan tersalurkan jika pendidikan memperhatikan aspek perkembangan anak didik. Guru akan mudah mengajar dan memberikan materi dengan metode tepat.
Pendidikan hendaknya mengembangkan aspek pribadi dengan tidak mengabaikan aspek sosial, lebih dari itu pendidikan hendaknya mengembangkan aspek emosi dan religi anak. Agama adalah sumber ajaran akhlak mulia, dengan pemahaman agama kuat diharapkan anak mempunyai referensi cukup untuk mengembangkan kepribadiannya.

Penulis adalah Pengajar pada FKIP USN Kolaka


DAFTAR RUJUKAN
  • Abdurrahman An-Nahlawi, Abdurrahman. 1996. Ushulut Tarbiyah Islamiyah Wa Asalibiha fii Baiti wal Madrasati wal Mujtama Penerjemah. Shihabuddin. Jakarta: Gema Insani Press
  • Arief Rahman. 2005. Tanamkan Imtaq Sejak Dini. Bandung: Green Link Lohjinawi
  • BNSP.2005. Stnadar Nasional Pendidikan. Jakarta: Badan Standar Nasional (BSN)
  • Idris, Jamaluddin. (2005). Kompilasi Pemikiran Pendidikan, Yogyakarta, Banda Aceh: Suluh Press dan Taufiqiyah Saadah
  • Nata, Abuddin. 2007. Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana.
  • Rabbi, Muhammad dan Jauhari. 2006. Akhaquna,terjemahan. Dadang Sobar Ali, Bandung: Pustaka Setia.
  • Supriadi, Dedi. 2004. Pendidikan Nilai Sebuah Megatren. Bandung: Alfabeta.

GALLERI FOTO

PERAN GURU DALAM MEMBANGUN MORAL DAN AKHLAK ANAK
Syech 27-09-2017 (07:00:31)

PERAN GURU DALAM MEMBANGUN MORAL DAN AKHLAK ANAK

Opini lainnya

Download Terbaru

Pengunjung Web

0007620

Flag Counter