Momentum HAB ke-72 Kemenag Sultra Tolak Isu Negatif

Rahmad. S.Pd., M.Pd 04-01-2018 (07:47:02) Berita 102 times
Kakanwil Kemenag Sultra Abdul Kadir, M. Pd. saat Ramah Tamah Usai Upacara HAB ke-72 di Aula Kantor Wilayah Kemenag Prov. Sultra di Kendari Rabu, 03 Januari 2018

Kendari, (Inmas Sultra) – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Tenggara (Sultra) Abdul Kadir, mengatakan dalam momentum Hari Amal Bakti (HAB) Kemenag ke-72 ini, pihaknya mengajak semua masyarakat jangan percaya dengan isu-isu sara berkembang yang bisa membuat pertentangan.

“Isu-isu tersebut hanya dibesar-besarkan oleh orang-orang yang tidak bertangungjawab, untuk merapukan dan memutuskan tali persaudaraan kita antar umat beragama yang sudah lama terjalin dengan baik,” kata Abdul Kadir di Kantor Kemenag Sultra, Selasa 3 Januari 2018.

Kemudian yang dimaksud dengan isu-isu sara itu, jelas dia sebuah isu yang dikemas, didesain sedemikian rupa memiliki manajemen isu. Orang-orang yang sengaja menghembuskan isu sara juga melakukan intimidasi, mengeksploitasi dan ada juga sekelompok orang yang terlalu fanatik atau ekstrim.

“Jadi kita harus menjadi penganut agama yang fanatik terhadap agama dan keyakinan kita. Karena hanya orang-orang yang fanatik terhadap agamanya yang meyakini agamanya benar, dan hanya orang fanatik yang bisa menjalankan ajaran agamanya. Akan tetapi fanatik terhadap agama kita itu tidak boleh kita paksakan pada orang lain,” terang Abdul Kadir.

Dirinya menghimbau kepada semua masyarakat dengan HAB kemenag ke 72 ini, dapat menebarkan kedamaian dengan adanya pengakuan sesama umat beragama sesuai ajaran masing-masing.

“Pengakuan keberadaan kita sesama umat, kita menghargai perbedaan, kita harus buat suasana kondusif dan logis, kita saling memahami, dan kita saling mengerti, kita bisa melengkapi tanpa ada perasaan menggangu dan menekan untuk melaksanakan ajaran agamanya secara baik dan benar dari masing-masing umat beragama,” jelasnya.

Untuk membangun ini, Abdul Kadir menerangkan, umat beragama harus harus mampu membangun kepercayaan, toleransi harus sebisa mungkin dapat dipelihara, kerukunan harus tetap dijaga, dan pengertian antar umat harus terbangun dengan baik.

“Kita bersatu dalam keberagaman, kita harus pelihara kekayaan itu, karena ini merupakan anugrah yang paling besar dari sang pencipta. Mari kita tingkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama kita dengan baik dan benar,” jelasnya.

“Saya memghimbau kepada masyarakat, apabila berguru ajaran agama, bergurulah pada orang yang tepat, yang bersumber pada sumber-sumber ajaran agama masing-masing,” tambahnya

Hal itu, berdasarkan tujuan Kemenag untuk mengurusi umat beragama, dengan berdasarkan Undang-undang (UU) ada berbagai macam agama. Misalnya, Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan didalam amandemen terdapat agama konghucu.

“Walaupun berbeda-beda umat beragama, sesuai dengan tujuannya Kemenag akan selalu menjaga perbedaan ini untuk ketentraman kedamaian umat beragama,” tutupnya. (rhd)

Berita lainnya