Kemenag Sultra Kerjasama Pascasarjana IAIN Kendari Gelar Dialog Awal Tahun 2018

Waliullah, S.Ip 13-01-2018 (14:52:16) Berita 126 times
Kakanwil Kemenag Sultra, Dr. Abdul Kadir, M. Pd. saat menyampaikan materi pada Dialog Awal Tahun 2018 Kerjasama Kanwil Kemenag Sultra dengan Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Minggu, (13/1).


Kendari, (Inmas Sultra) --- Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bekerjasama dengan Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari menggelar Dialog Awal Tahun 2018 yang mengusung tema Qua Vadis Kehidupan Toleransi Umat Beragama di Indonesia, Minggu, (13/1).

Bertindak sebagai narasumber Kepala Kanwil Kemenag Sultra Bapak Dr. Abdul Kadir, M.Pd, dan Bapak Dr. Muhammad Sabri AR., MA yang juga Dosen Filsafat dan Pemikiran Islam Pascasarjana UIN Alauddin Makassar serta dipandu Direktur Pascasarjana IAIN Kendari, Dr. Supriyanto, MA.

Kakanwil Kemenag Sultra, Dr. Abdul Kadir, M.Pd mengatakan pemerintah memberikan porsi yang sangat besar terhadap toleransi umat beragama di Indonesia karena dapat mengakibatkan terjadinya gesekan-gesekan atau konflik yang tidak dapat dihindari antarumat beragama.

Dikatakannya, Konflik adalah keniscayaan. Konflik rentan terjadi di lingkungan yg heterogen maka diperlukan manajemen konflik, bukan menghilangkan konflik.

“Bahwa hak beragama adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Negara menjamin  kemerdekaan  tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya. Pemerintah juga berkewajiban melindungi setiap usaha penduduk melaksanakan ajaran agama dan ibadah pemeluk-pemeluknya,” ujarnya.

Tantangan atas keberagamaan terbesar yang dihadapi adalah liberalisme dan radikalisme.  Di katakanya, tantangan ini menjadi perhatian serius pemerintah.

"Liberalisme yaitu penafsiran teks yang sangat bebas , tanpa mengindahkan kaidah-kaidah penafsiran teks, bahkan berani menabrak kaidah agama yang telah mapan. Sangat melebih-lebihkan konteks." Selanjutnya, Abdul Kadir menegaskan bahwa radikalisme adalah penafsiran teks yang sangat ketat tanpa melakukan verifikasi empirik. Sangat melebihkan-lebihkan teks.

Disebutkannya, potensi retaknya toleransi dapat disebabkan beberapa hal yaitu kurangnya pengetahuan para pemeluk agama, kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam kehidupan masyarakat. Hal lain yang turut andil terhadap potensi retaknya toleransi adalah sifat dari setiap agama, yang mengandung misi dan tugas dakwah. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat.Di samping itu,  Para pemeluk agama tidak mampu mengontrol diri, sehingga tidak menghormati bahkan memandang rendah agama lain. Untuk menjaga keutuhan dalam bertoleransi jangan pernah menaruh Kecurigaan terhadap pihak lain, baik antarumat beragama, intern umat beragama, atau antara umat beragama dengan pemerintah.

Dihadapan para guru dari majelis agama, Kakanwil berpesan perlunya membangun toleransi umat beragama dengan menampilkan ajaran agama yang memiliki moralitas universal. menggalang pemahaman agama yang tidak sempit dengan klaim kebenaran yang eksklusif. Mengembangkan sikap keberagaman yang moderat dan sikap saling mempercayai atas itikad baik golongan agama lain.

“Keragaman itu indah dan merajut keragaman itu adalah keharusan bagi kita, baik dalam bingkai NKRI maupun dalam bingkai menghidupkan lokal wisdom dan lokal genius dalam menjaga dan memelihara kerukunan umar beragama,” tandasnya.

Berita lainnya